Malang - Setiap kali September tiba, bangsa ini seperti membuka kembali lembaran sejarah yang penuh luka: tragedi G30S/PKI 1965. Puluhan tahun narasi ini dibentuk lewat film wajib, buku pelajaran, hingga propaganda negara. Generasi sebelumnya hidup dengan trauma, rasa takut, dan stigma ideologi. Namun bagaimana dengan Gen Z, generasi yang lahir jauh setelah peristiwa itu?
Bagi Gen Z, G30S/PKI seringkali hanya berupa potongan klip film hitam putih, cerita horor politik, atau sekadar tanggal penting di kalender nasional. Tidak ada memori langsung, hanya warisan interpretasi. Tapi justru di sinilah tantangannya: bagaimana generasi hari ini membaca ulang sejarah bukan sekadar menerima doktrin, melainkan mengolahnya secara kritis.
Sejarah G30S/PKI tidak bisa dilepaskan dari kekerasan massal, pembungkaman, dan propaganda. Korban bukan hanya mereka yang dituduh komunis, tetapi juga masyarakat sipil yang menjadi sasaran stigma. Jika generasi sebelumnya dipaksa untuk “melupakan” atau “menerima” versi tunggal sejarah, Gen Z justru punya peluang emas: menghadirkan ruang dialog baru.
Pertanyaannya bukan lagi: siapa yang benar, siapa yang salah? Tetapi: apa yang bisa kita pelajari dari luka bangsa ini?
Apakah bangsa ini akan terus hidup dalam politik ketakutan? Atau berani membangun tradisi baru: membaca sejarah dengan kritis, empati pada korban, dan jujur pada diri sendiri?
Gen Z tumbuh di era scrolling, bukan di ruang kelas yang penuh indoktrinasi. Mereka lebih percaya pada potongan video, thread Twitter, atau diskusi podcast daripada narasi tunggal dari buku teks. Ada risiko disinformasi, tetapi juga ada potensi luar biasa: sejarah bisa dihidupkan kembali melalui medium kreatif.
Bayangkan tragedi 1965 dibicarakan lewat short movie, komik digital, atau TikTok reflektif. Bayangkan narasi sejarah tidak lagi hitam-putih, tetapi berlapis: suara korban, pelaku, saksi, bahkan keluarga yang diwarisi trauma. Ini bukan sekadar “konten”, melainkan upaya merebut kembali ruang memori kolektif.
Refleksi G30S/PKI seharusnya tidak berhenti pada “jangan ulangi lagi” kalimat klise yang terdengar kosong. Bagi Gen Z, refleksi ini bisa menjadi:
Belajar kritis terhadap narasi resmi. Jangan asal percaya, cari sumber lain, dengarkan cerita dari berbagai sisi.
Menumbuhkan empati lintas generasi. Pahami bahwa setiap trauma meninggalkan jejak panjang, bukan hanya pada korban, tapi juga anak cucu mereka.
Membangun keberanian bersuara. Jika dulu banyak orang dibungkam, sekarang Gen Z punya ruang digital untuk menulis, berdiskusi, bahkan mengkritik.
Refleksi atas G30S/PKI bukan sekadar ritual tahunan, melainkan kesempatan untuk melihat cermin:
- Apakah kita masih mewarisi budaya takut dan saling curiga?
- Apakah kita berani melawan propaganda dan politik kebencian yang muncul dengan wajah baru?
- Apakah kita bisa menciptakan sejarah yang lebih adil, lebih manusiawi, lebih jujur untuk generasi setelah kita?
Sejarah G30S/PKI adalah luka, tapi bagi Gen Z, luka itu bisa menjadi sumber daya kritis. Dari generasi yang tidak lagi dibebani trauma langsung, lahirlah kesempatan untuk membangun memori kolektif yang lebih sehat. Sejarah memang tidak bisa diubah, tetapi cara kita mengingat dan belajar darinya bisa menentukan arah masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Online