Jumat, 06 FEBRUARI 2026 • 23:08 WIB

Lorong Bawah Tanah Stasiun Malang Kota Baru, Saksi Sunyi Ancaman Perang Era Kolonial

Author

Lorong Bawah Tanah Peninggalan Belanda di Stasiun Malang Kota Baru (Bhekti Setyowibowo / INDOZONE)

Malang - Stasiun Malang Kota Baru tidak hanya dikenal sebagai salah satu ikon transportasi di Jawa Timur. Di balik aktivitas keluar masuk penumpang setiap hari, stasiun ini menyimpan jejak sejarah penting berupa lorong bawah tanah peninggalan kolonial Belanda. Lorong tersebut dibangun sekitar tahun 1941, pada masa situasi politik dunia memanas dan ancaman perang semakin nyata.

Lorong bawah tanah ini dirancang sebagai tempat perlindungan dari serangan bom. Pada masa itu, pemerintah kolonial Belanda mulai mengantisipasi kemungkinan serangan udara. Stasiun kereta menjadi objek vital yang harus diamankan. Karena itu, dibangunlah terowongan yang menghubungkan peron satu dengan peron lainnya melalui jalur bawah tanah.

Secara fungsi, lorong ini tidak hanya menjadi akses penghubung antarperon. Terowongan tersebut juga dilengkapi pintu baja tebal yang berfungsi sebagai sistem pengamanan. Pintu ini dirancang untuk menahan tekanan dan melindungi orang-orang di dalamnya jika terjadi serangan. Desain ini menunjukkan bahwa aspek keselamatan menjadi perhatian utama pada masa itu.

Dari sisi arsitektur, lorong bawah tanah Stasiun Malang Kota Baru memiliki kemiripan dengan terowongan pejalan kaki di Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Keduanya dibangun dengan pendekatan fungsional dan efisien. Hal ini sejalan dengan gaya arsitektur yang berkembang pada masa akhir kolonial, yang menekankan kekuatan struktur dan minim ornamen.

Stasiun Malang Kota Baru sendiri dikenal memiliki gaya arsitektur International Style yang dipadukan dengan sentuhan Art Deco. Ciri ini tampak pada bentuk bangunan yang geometris dan penggunaan material beton yang dominan. Salah satu elemen yang menonjol adalah kanopi peron beton yang kokoh. Struktur ini sering dibandingkan dengan bangunan pasca-perang di Rotterdam yang mengedepankan kekuatan dan ketahanan.

Hingga kini, lorong bawah tanah tersebut masih menjadi bagian dari bangunan dasar stasiun. Nilai sejarahnya tetap dipertahankan meskipun Stasiun Malang Kota Baru telah mengalami berbagai pengembangan. Perluasan bangunan, terutama di sisi timur, dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan transportasi modern tanpa menghilangkan identitas bangunan lama.

Keberadaan lorong bawah tanah ini menjadi pengingat bahwa Stasiun Malang Kota Baru bukan sekadar fasilitas transportasi. Bangunan ini juga merupakan saksi bisu dinamika sejarah, mulai dari masa kolonial hingga era modern. Jejak-jejak tersebut memperkaya nilai sejarah kota Malang dan layak untuk terus dikenang serta dilestarikan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU