Malang - Kawasan Kayutangan Heritage dikenal sebagai pusat aktivitas Kota Malang. Area ini biasanya ramai dari pagi hingga malam. Kafe, toko, dan ruang publik selalu dipadati pengunjung.
Namun suasana berbeda terlihat saat hari pertama Idul Fitri. Kawasan Kayutangan tampak lengang. Arus kendaraan menurun drastis. Pejalan kaki juga tidak sebanyak hari biasa.
Banyak pelaku usaha memilih tutup sementara. Karyawan libur untuk merayakan Lebaran bersama keluarga. Aktivitas ekonomi berhenti sejenak. Hal ini berdampak langsung pada suasana kawasan.
Warga Malang juga cenderung berada di rumah. Tradisi silaturahmi membuat mobilitas berpindah ke lingkungan permukiman. Kunjungan lebih banyak terjadi antar keluarga, bukan ke pusat kota.
Kondisi ini sebenarnya terjadi setiap tahun. Data kunjungan kawasan menunjukkan penurunan signifikan di hari pertama Lebaran. Aktivitas mulai kembali normal pada hari kedua atau ketiga.
Sepinya Kayutangan memberi gambaran pola sosial masyarakat. Pusat kota bisa berhenti sejenak ketika momen keluarga menjadi prioritas. Ini berbeda dengan hari libur biasa yang justru meningkatkan kunjungan.
Meski sepi, kondisi ini tidak berlangsung lama. Setelah Lebaran, Kayutangan kembali hidup. Wisatawan lokal dan luar kota mulai berdatangan. Kafe dan ruang publik kembali ramai.
Fenomena ini memperlihatkan dinamika kota. Kawasan yang dikenal tidak pernah tidur pun bisa jeda. Lebaran menjadi satu dari sedikit momen yang mampu mengubah ritme tersebut di Kota Malang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung