Malang - Setelah Salat Idul Fitri, suasana Lebaran di banyak daerah langsung berubah menjadi lebih meriah. Salah satu tradisi yang masih bertahan adalah menyalakan petasan. Suara ledakan terdengar hampir di setiap sudut kampung.
Bagi sebagian masyarakat, petasan menjadi simbol perayaan. Momen ini dianggap sebagai cara mengekspresikan rasa bahagia setelah menjalani puasa selama satu bulan. Anak-anak hingga orang dewasa ikut terlibat dalam tradisi ini.
Tradisi ini sudah berlangsung lama. Di beberapa daerah, petasan bahkan menjadi bagian dari kebiasaan turun-temurun. Meski bentuk dan jenisnya berubah, semangat merayakan tetap sama.
Namun, penggunaan petasan juga memunculkan persoalan. Risiko kebakaran dan cedera sering terjadi setiap tahun. Data dari sejumlah laporan kesehatan menunjukkan peningkatan kasus luka akibat petasan saat Lebaran.
Selain itu, suara petasan kerap mengganggu kenyamanan. Tidak semua orang menikmati kebisingan, terutama lansia dan anak kecil. Di kawasan padat penduduk, dampaknya terasa lebih besar.
Di sisi lain, ada pergeseran cara merayakan. Sebagian masyarakat mulai beralih ke cara yang lebih aman. Kegiatan seperti silaturahmi, open house, dan hiburan keluarga menjadi pilihan utama.
Fenomena petasan menunjukkan dua sisi Lebaran. Di satu sisi, ada euforia dan tradisi. Di sisi lain, ada kebutuhan untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan bersama.
Tradisi ini masih akan terus ada. Tantangannya adalah bagaimana masyarakat bisa merayakan tanpa menimbulkan risiko yang merugikan. Lebaran tetap meriah, tetapi juga tetap aman untuk semua.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung