Jumat, 27 MARET 2026 • 09:09 WIB

Hari Raya Ketupat atau Riyoyo Lontong, Tradisi Lebaran yang Masih Hidup di Jawa

Author

Ketupat Simbol Tradisi Jawa (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)

Malang - Hari Raya Ketupat dikenal luas di masyarakat Jawa sebagai Riyoyo Lontong. Tradisi ini dirayakan beberapa hari setelah Idulfitri. Umumnya jatuh pada hari ketujuh bulan Syawal.

Perayaan ini memiliki akar kuat dalam budaya Islam Jawa. Tradisi ini sering dikaitkan dengan dakwah Sunan Kalijaga yang mengenalkan simbol ketupat sebagai media ajaran.

Ketupat tidak sekadar makanan. Bentuk anyaman janur melambangkan kesalahan manusia yang saling terikat. Isi beras putih mencerminkan hati yang bersih setelah saling memaafkan.

Masyarakat Jawa merayakan Riyoyo Lontong dengan membuat ketupat dan lontong dalam jumlah besar. Hidangan ini disajikan bersama opor ayam, sayur lodeh, atau sambal goreng. Tradisi makan bersama menjadi inti perayaan.

Kegiatan ini juga diisi dengan silaturahmi lanjutan. Warga saling berkunjung ke rumah tetangga dan keluarga. Suasana lebih santai dibanding Idulfitri hari pertama.

Di beberapa daerah, perayaan ini dibuat lebih meriah. Ada arak-arakan ketupat, doa bersama, hingga kegiatan sedekah makanan. Tradisi ini memperkuat hubungan sosial antarwarga.

Riyoyo Lontong juga menjadi penutup rangkaian Lebaran. Momen ini menegaskan nilai kebersamaan dan rasa syukur setelah menjalani ibadah puasa dan Syawal.

Hingga kini, tradisi Hari Raya Ketupat tetap bertahan. Praktiknya mungkin berbeda di tiap daerah, tetapi maknanya tetap sama. Membersihkan diri, mempererat hubungan, dan menjaga warisan budaya Jawa.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU