Malang - Di tengah hiruk pikuk Kota Malang yang semakin modern, Masjid Jami tetap menyimpan sebuah warisan unik yang masih bertahan hingga hari ini. Bukan sekadar bangunan bersejarah atau arsitektur klasiknya, tetapi sebuah alat penunjuk waktu tradisional bernama Jam Istiwa. Sebagian masyarakat juga menyebutnya Jam Istiwak. Alat ini menjadi bukti bagaimana ilmu pengetahuan, astronomi, dan praktik ibadah telah berpadu sejak masa lampau.
Sekilas, Jam Istiwa terlihat sederhana. Bentuknya hanya berupa tongkat atau penanda bayangan yang dipasang di area tertentu dengan garis-garis penunjuk arah. Namun di balik kesederhanaannya, alat ini bekerja berdasarkan pergerakan alami matahari. Bayangan yang dihasilkan menjadi penentu waktu secara akurat, terutama untuk menentukan waktu salat.
Sebelum teknologi digital berkembang seperti sekarang, masyarakat Muslim mengandalkan pengamatan alam untuk mengetahui pergantian waktu. Matahari menjadi acuan utama. Dari sinilah Jam Istiwa hadir sebagai instrumen penting di banyak masjid tua di Indonesia, termasuk di Masjid Jami Kota Malang.
Ketika matahari bergerak, bayangan yang jatuh pada permukaan penanda akan berubah posisi. Perubahan itulah yang dibaca untuk mengetahui waktu zuhur, asar, hingga penentuan arah kiblat. Sistem ini bekerja dengan prinsip astronomi sederhana namun memiliki tingkat ketelitian tinggi karena langsung mengikuti posisi matahari secara nyata.
Keberadaan Jam Istiwa di Masjid Jami Malang juga menjadi pengingat bahwa tradisi keilmuan Islam sejak dahulu tidak pernah jauh dari sains. Para ulama dan ahli falak masa lalu mempelajari pergerakan benda langit demi membantu masyarakat menjalankan ibadah dengan tepat waktu. Bahkan sebelum jam mekanik dan aplikasi digital hadir, metode ini sudah digunakan selama ratusan tahun.
Menariknya, hingga kini Jam Istiwa masih menjadi perhatian para pengunjung masjid. Banyak jamaah maupun wisatawan yang penasaran bagaimana sebuah bayangan matahari mampu menentukan waktu salat secara presisi. Tidak sedikit pula pelajar dan mahasiswa datang untuk mempelajari langsung cara kerja alat tersebut sebagai bagian dari sejarah astronomi Islam di Indonesia.
Di era serba digital, keberadaan Jam Istiwa memang terasa langka. Namun justru di situlah nilainya. Ia bukan hanya alat penunjuk waktu, melainkan simbol hubungan manusia dengan alam semesta. Setiap bayangan yang bergerak mengingatkan bahwa waktu terus berjalan, sementara manusia hanya diberi kesempatan untuk mengisinya sebaik mungkin.
Masjid Jami Malang melalui Jam Istiwa seakan menyimpan pesan sederhana. Bahwa teknologi modern boleh berkembang, tetapi pengetahuan tradisional yang lahir dari ketelitian membaca alam tetap memiliki tempat penting dalam sejarah peradaban manusia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung