Selasa, 26 MEI 2026 • 01:25 WIB

Ratna Indraswari Ibrahim, Perempuan yang Melawan Lewat Kata-Kata

Author

Foto Ratna Indraswari Ibrahim (Bhekti Setyowibowo / INDOZONE)

Malang -  Di tengah lalu lalang Kota Malang yang terus bergerak, ada sebuah rumah sederhana yang menyimpan banyak percakapan, gagasan, dan kenangan tentang perjuangan. Tempat itu bernama Rumah Budaya Ratna atau RBR. Bukan sekadar ruang baca, tetapi ruang hidup yang mempertemukan mahasiswa, seniman, pekerja, hingga masyarakat umum dalam satu semangat yang sama, belajar dan bertumbuh bersama.

Rumah itu lahir dari ingatan terhadap sosok Ratna Indraswari Ibrahim, seorang perempuan yang sepanjang hidupnya memilih melawan lewat tulisan. Di tengah keterbatasan fisik yang ia jalani, Ratna justru menjadikan sastra sebagai suara yang menembus banyak batas. Ia menulis tentang perempuan, penyandang disabilitas, lingkungan, hingga berbagai persoalan sosial yang sering luput dari perhatian.

Bagi Ratna, sastra bukan sekadar cerita. Sastra adalah cara untuk menjaga ingatan dan menyampaikan keberanian.

Salah satu karya pentingnya adalah Lemah Tanjung. Novel ini merekam perjuangan masyarakat mempertahankan ruang hijau Lemah Tanjung dari alih fungsi lahan dan pembangunan. Kini kawasan tersebut telah berubah menjadi Ijen Nirwana Residence. Namun melalui tulisannya, Ratna berhasil meninggalkan jejak tentang bagaimana sebuah ruang hidup pernah diperjuangkan oleh masyarakat.

Tulisan-tulisan Ratna terasa dekat karena lahir dari kegelisahan nyata. Ia tidak menempatkan dirinya jauh dari persoalan sosial. Justru dari keterbatasan yang ia alami, Ratna memahami bagaimana rasanya dipinggirkan, diremehkan, dan dianggap tidak mampu. Pergulatan itulah yang kemudian membentuk keberanian dalam setiap karyanya.

Pada masa hidupnya, Ratna juga sempat bergulat dengan penerimaan diri. Ia mempertanyakan banyak hal tentang hidup dan keterbatasan yang harus dijalani. Namun perlahan, melalui dukungan sahabat dan lingkungan sekitarnya, ia menemukan kekuatan untuk berdamai sekaligus bertumbuh.

Semangat itulah yang hari ini terus dijaga di Rumah Budaya Ratna.

Menurut Benny Ibrahim, adik kandung Ratna sekaligus pimpinan Rumah Budaya Ratna, tempat ini dibangun untuk menjadi ruang aman bagi generasi muda. Ruang di mana orang-orang dapat bertemu, berdiskusi, dan berkembang bersama mereka yang memiliki semangat belajar yang sama.

Karena itu, RBR tidak hanya menghadirkan rak-rak buku dan ruang membaca. Tempat ini menjadi ruang pertemuan bagi banyak ide dan percakapan. Anak-anak muda datang untuk saling mengenal, membangun koneksi, hingga menemukan keberanian untuk menyampaikan gagasan mereka sendiri.

Di tempat ini, warisan terbesar Ratna bukan hanya karya sastra. Tetapi juga cara pandang tentang kehidupan.

Bahwa keterbatasan bukan akhir dari perjuangan. Bahwa seseorang tetap dapat tumbuh, bersuara, dan memberi pengaruh meski berada dalam kondisi yang tidak mudah. Rumah Budaya Ratna terus menghidupkan keyakinan bahwa pengetahuan, empati, dan keberanian berpikir mampu membantu manusia melampaui batas-batas yang selama ini dianggap mustahil.

Di tengah dunia yang semakin bising, kisah Ratna Indraswari Ibrahim mengingatkan bahwa suara paling kuat terkadang lahir dari mereka yang selama ini diremehkan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU