Malang - Menjelang Hari Raya Iduladha, suasana tempat penyembelihan hewan kurban mulai dipenuhi aktivitas para panitia dan jagal. Di tengah kesibukan itu, ada satu proses penting yang sering luput dari perhatian masyarakat, yaitu cara merebahkan sapi sebelum disembelih. Bagi komunitas Juru Sembelih Halal atau Juleha di Malang, proses ini bukan sekadar soal tenaga, tetapi tentang empati, ketenangan, dan penghormatan terhadap hewan.
Di sejumlah pelatihan yang digelar komunitas Juru Sembelih Halal Indonesia wilayah Malang, para peserta diajarkan bahwa hewan kurban tidak boleh diperlakukan kasar. Sapi harus dibuat tenang agar tidak stres sebelum proses penyembelihan dilakukan. Karena itu, teknik merebahkan sapi dilakukan dengan pendekatan yang lebih manusiawi dan minim rasa sakit.
Salah satu teknik yang umum digunakan adalah metode tali kendali. Dalam metode ini, beberapa tali dipasang pada bagian kepala, badan, dan kaki sapi dengan posisi tertentu. Tali kemudian ditarik secara perlahan dan terarah oleh beberapa orang yang sudah memahami koordinasi gerak. Tujuannya agar sapi kehilangan keseimbangan secara alami lalu rebah perlahan ke sisi kiri tanpa benturan keras.
Menurut para praktisi Juleha Malang, kesalahan yang sering terjadi di lapangan adalah penggunaan kekerasan berlebihan. Ada sapi yang dipukul, ditarik paksa, bahkan dibuat panik karena banyak suara keras di sekitar lokasi penyembelihan. Padahal kondisi stres pada hewan bisa memengaruhi kualitas daging sekaligus bertentangan dengan prinsip kesejahteraan hewan dalam syariat Islam.
Teknik perebahan yang benar justru menekankan ketenangan. Sebelum direbahkan, sapi biasanya diajak bergerak perlahan agar tidak kaget. Mata hewan juga diusahakan tidak melihat proses penyembelihan hewan lain. Bahkan dalam beberapa pelatihan, panitia diminta menjaga nada bicara agar tidak memicu kepanikan sapi.
Para anggota Juleha menyebut bahwa penyembelihan halal bukan hanya tentang membaca basmalah atau memastikan pisau tajam. Cara memperlakukan hewan sebelum disembelih juga menjadi bagian penting dari nilai ihsan dalam Islam. Karena itu, edukasi tentang teknik handling hewan kini mulai banyak diajarkan kepada panitia kurban di masjid maupun komunitas masyarakat.
Di Malang, kesadaran tentang pentingnya teknik perebahan tanpa kekerasan mulai meningkat dari tahun ke tahun. Banyak panitia kurban mulai mengundang pelatih Juleha untuk memberikan simulasi langsung sebelum hari penyembelihan tiba. Harapannya, proses kurban tidak hanya sah secara syariat, tetapi juga lebih aman bagi panitia dan lebih layak bagi hewan kurban.
Pendekatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ibadah kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga tentang menjaga nilai kemanusiaan, kasih sayang, dan tanggung jawab dalam setiap prosesnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung