Warga arjosari menggelar aksi turun kejala. (Facebook / Bang Doel Saja)
MALANG – Puluhan warga Kelurahan Arjosari melakukan aksi damai di area keberangkatan Terminal Arjosari, Selasa siang (1/7/2025). Dengan membawa spanduk bertuliskan “Tolak Premanisme,” mereka menyerukan berakhirnya praktik calo dan juru panggil (jupang) liar di terminal tersebut.
Kepala Terminal Arjosari, Mega Perwira Donowati, turut menghampiri massa aksi dan menyampaikan dukungan terhadap tuntutan warga. Ia menyampaikan langkah konkret yang akan ditempuh pihak terminal, yaitu pendataan ulang jupang dan mandor. Mereka yang tidak tercatat sebagai bagian dari perusahaan otobus resmi akan dikeluarkan dari area terminal. Sebagai identitas, nantinya semua jupang dan mandor resmi diwajibkan mengenakan rompi berlabel perusahaan.
Langkah Penertiban dan Pengawasan yang Ditingkatkan
Sejak akhir Juni, Terminal Arjosari telah memperketat pengawasan terhadap praktik calo dan ngetem liar. Pendataan pihak-pihak yang beroperasi di terminal menjadi fokus utama. Diharapkan pendataan ini dapat menghilangkan praktik penarikan biaya ilegal yang kerap membebani sopir dan penumpang.
Selain itu, akan dilakukan patroli dan penyisiran rutin oleh petugas terminal bersama kepolisian dan Dishub jika ditemukan aktivitas mencurigakan. Keterlibatan warga juga diperkuat melalui grup komunikasi bersama Polsek dan Koramil agar tanggapan terhadap insiden bisa dilakukan dengan cepat.
Insiden Kekerasan sebagai Pemicu Aksi Damai
Protes akar rumput ini dipicu oleh pengeroyokan brutal terhadap seorang perwira TNI AL beberapa hari sebelumnya. Insiden terjadi saat korban menegur sekelompok calo yang memalak sopir bus, lalu dianiaya secara bersama-sama. Video insiden sempat viral dan menimbulkan kecaman publik terhadap maraknya premanisme di terminal.
Warga arjosari menggelar aksi di terminal arjosari. (Facebook / Bang Doel Saja)
Dukungan Publik dan Rencana Tindak Lanjut
Aksi damai ini mendapat dukungan penuh dari warga Arjosari yang menyerukan agar terminal jadi zona aman dari praktik premanisme. Terminal Arjosari sendiri telah menyusun tujuh poin kesepakatan bersama warga untuk menolak segala bentuk calo dan preman di dalam maupun sekitar area terminal.
Langkah nyata selanjutnya mencakup penegakan aturan operasional yang lebih tegas, seleksi petugas jupang dan mandor, serta penertiban aktivitas ojek online dan angkot agar tidak melanggar ketentuan. Jika diperlukan, terminal akan meletakkan zona khusus dan pos pengawasan terpadu untuk memastikan ketaatan semua pihak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: