Warga masyarakat bergotong royong membangun jembatan sono kembang (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)
Malang – Setelah hampir dua pekan menunggu tanpa ada tindakan dari pemerintah, warga Kelurahan Pandanwangi, Kota Malang akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah sendiri. Mereka bergotong royong membangun jembatan darurat dari bambu di kawasan Sono Kembang, Minggu (26/10/2025).
Jembatan itu menjadi penghubung vital antarwilayah yang biasa digunakan warga untuk beraktivitas, mulai dari berangkat kerja, sekolah, hingga mengangkut hasil dagangan. Sejak rusak dua minggu lalu akibat hujan deras dan arus sungai yang deras, akses warga terputus total. Tidak ada jalur alternatif lain yang cukup dekat, sehingga warga harus memutar jauh hingga beberapa kilometer.
“Kalau lewat jalan lain, bisa nambah waktu hampir setengah jam. Kasihan anak-anak sekolah dan orang kerja,” ujar Wawan (43), salah satu warga yang ikut dalam kerja bakti membangun jembatan darurat tersebut.
Dengan peralatan seadanya, warga secara swadaya mengumpulkan dana dan bahan bangunan. Bambu menjadi pilihan utama karena mudah didapat dan bisa dikerjakan bersama. Dalam waktu dua hari, mereka berhasil membuat jembatan sederhana yang bisa dilalui pejalan kaki dan kendaraan roda dua.
“Ini sifatnya sementara saja. Kami berharap pemerintah bisa segera turun tangan memperbaiki jembatan utama, karena kalau musim hujan datang lagi, bambu bisa licin dan berisiko,” tambah Siti Aminah (38), warga lain yang ikut membantu menyiapkan konsumsi untuk para pekerja.
Bagi warga Pandanwangi, jembatan Sono Kembang bukan sekadar penghubung dua sisi sungai, melainkan urat nadi kehidupan. Banyak anak sekolah, pedagang, dan pekerja yang setiap hari melintas di sana. Kondisi jembatan yang rusak membuat mobilitas warga lumpuh, bahkan beberapa pelajar terpaksa absen karena sulit mencari rute alternatif.
Sementara itu, hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak pemerintah kota terkait rencana perbaikan jembatan tersebut. Warga berharap langkah swadaya ini bisa membuka mata pemerintah bahwa akses publik sekecil apa pun tetap penting untuk mendukung aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat.
“Yang kami butuh bukan jembatan besar, tapi jembatan yang aman dan bisa dilalui setiap hari. Semoga segera diperbaiki,” tutup Wawan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung