Malang – Menjelang tahun ajaran baru, geliat perburuan alat tulis dan perlengkapan sekolah mulai terasa di berbagai penjuru Kota Malang. Fenomena ini bukan hal baru, namun selalu menarik diamati karena memunculkan rutinitas sosial yang unik: toko alat tulis padat merayap, keluarga berbondong-bondong membawa daftar belanja, hingga antrean panjang di kasir toko buku.
Momen ini seolah menjadi “musim belanja tahunan” yang tidak hanya menyangkut kebutuhan sekolah, tapi juga membentuk pola budaya konsumsi, ekonomi keluarga, bahkan interaksi antarwarga.
Baca juga: Segar dan Penuh Khasiat: Ini 7 Manfaat Air Degan Ijo bagi Kesehatan Tubuh
Bagi sebagian orang tua, belanja alat sekolah adalah ritual tahunan yang menyenangkan sekaligus penuh perhitungan. Mereka berburu diskon, menyusun anggaran, bahkan membandingkan harga dari satu toko ke toko lain. Sementara itu, bagi para pelajar, terutama anak-anak, momen ini adalah ruang ekspresi—memilih motif buku, warna pensil, hingga tas bergambar karakter favorit.
Tidak heran jika beberapa toko ATK dan buku seperti Royal ATK, Togamas, atau Paperpen Stationery diserbu pembeli sejak pagi. Produk-produk seperti planner, spidol warna, hingga stiker lucu menjadi buruan yang tak sekadar fungsional, tapi juga mencerminkan selera dan identitas diri.
“Anak saya sudah milih sendiri semua isinya, katanya biar semangat belajar. Dulu saya yang nentuin, sekarang dia udah tahu apa yang dia suka,” ujar Reni, seorang ibu rumah tangga yang ditemui di salah satu toko alat tulis di kawasan Dieng.
Fenomena ini juga membawa dampak positif pada sektor ekonomi mikro di Kota Malang. Toko-toko perlengkapan sekolah, baik skala besar maupun kecil, meraup keuntungan berlipat dalam waktu singkat. Beberapa bahkan mengaku omzet mereka bisa naik hingga 200% dibanding hari biasa.
Pemilik toko ATK Aneka Stationery di kawasan Sukun, misalnya, mengaku kewalahan melayani pelanggan sejak akhir Juni.
“Setiap hari ramai terus. Apalagi akhir pekan, pembeli bisa sampai antre panjang. Kami siapkan stok dari awal agar tidak kehabisan,” ujarnya.
Tak hanya toko besar, pedagang kaki lima yang menjual pensil, penghapus, hingga sampul buku di pinggir jalan pun ikut merasakan berkah musim ajaran baru. Inilah bukti bahwa dunia pendidikan, meski di luar kelas, tetap menjadi penggerak ekonomi rakyat.
Menariknya, tren belanja juga mulai mengalami pergeseran. Sebagian orang tua muda kini memilih belanja daring melalui marketplace atau akun Instagram toko ATK. Namun, pengalaman memilih langsung dan sensasi "membawa pulang hasil buruan" masih membuat toko fisik tetap hidup dan diminati.
Beberapa toko besar seperti Royal ATK bahkan kini mengombinasikan penjualan online dan offline demi menjangkau pelanggan yang lebih luas.
Lebih dari sekadar transaksi, fenomena belanja alat sekolah setiap tahun adalah refleksi semangat baru dalam menyambut tahun ajaran. Setiap pensil yang diasah, buku yang disampul, atau tas yang dipilih sendiri oleh anak-anak adalah bentuk kecil dari harapan besar: pendidikan yang lebih baik.
Di tengah hiruk-pikuknya toko dan padatnya kantong belanja, Kota Malang sedang menyambut masa depan—satu per satu, lewat penghapus, penggaris, dan buku tulis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Online