Jumat, 11 JULI 2025 • 10:55 WIB

Pemkot Malang Siapkan Penyesuaian Trayek Angkot untuk Tingkatkan Layanan Transportasi

Author

Angkutan kota (Angkot) rute AG terlihat melintas di Jalan Jaksa Agung Suprapto, di Kota Malang, Jawa Timur (Antaranews)

Malang – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang tengah menyiapkan langkah penyesuaian jalur angkutan kota (angkot) guna meningkatkan kualitas transportasi umum di wilayahnya. Langkah ini merupakan respons atas masukan dari para sopir angkot yang menginginkan evaluasi ulang terhadap trayek yang sudah berjalan sejak puluhan tahun lalu.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang, Widjaja Saleh Putra, menjelaskan bahwa rerouting atau penataan ulang jalur angkot menjadi salah satu upaya adaptasi dengan kondisi terkini.

“Paguyuban sopir angkot menyampaikan aspirasi agar jalur trayek yang ada ditinjau kembali. Mereka berharap ada penyesuaian dengan kondisi saat ini,” ujar Widjaja, Kamis (4/7).

Baca juga: Wakil Wali Kota Malang Dorong Percepatan Digitalisasi Transaksi Daerah Demi Tingkatkan Pendapatan

Saat ini, trayek angkot yang beroperasi di Kota Malang sebagian besar telah digunakan sejak tahun 1998. Beberapa di antaranya seperti trayek ABH (Arjosari–Borobudur–Gadang–Hamid Rusdi), ADL (Arjosari–Dinoyo–Landungsari), AT(Arjosari–Tidar), serta AMG/AMH (Arjosari–Mergosono–Gadang–Hamid Rusdi), dan AL (Arjosari–Landungsari).

Widjaja menjelaskan, penyesuaian dilakukan dengan mempertimbangkan rasio keterisian penumpang dibanding jumlah angkot yang beroperasi. Saat ini, sejumlah trayek dinilai tidak optimal karena load factor atau tingkat keterisiannya hanya mencapai 30 persen.

"Misalnya, dalam satu jalur ada 100 angkot, tapi penumpangnya hanya sedikit. Ini tentu perlu dievaluasi agar lebih efisien," ujarnya.

Ia juga menyoroti ketimpangan antara sistem trayek angkot konvensional dengan transportasi daring yang tidak memiliki batasan rute. Hal ini dianggap memengaruhi daya saing angkot.

“Angkutan daring bisa beroperasi fleksibel, sedangkan angkot terikat jalur tetap. Perlu ada keseimbangan agar keduanya bisa berjalan berdampingan,” tambahnya.

Selain penyesuaian trayek, Dishub juga mempersiapkan angkot sebagai transportasi pengumpan atau feeder untuk mendukung operasional Bus TransJatim yang direncanakan masuk ke Malang.

“Para sopir berharap tetap punya peran ketika TransJatim mulai beroperasi. Rerouting akan diarahkan agar angkot bisa menjadi penghubung ke jalur utama,” terang Widjaja.

Dalam kesempatan yang sama, para sopir angkot juga menyuarakan keluhan mengenai beban pajak kendaraan. Mereka meminta Pemerintah Kota Malang untuk meneruskan aspirasi tersebut kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur agar bisa diberikan keringanan pajak kendaraan, mengingat pendapatan operasional yang semakin menurun.

“Mereka merasa penghasilan dari operasional harian saja sudah minim, apalagi jika ditambah beban pajak,” pungkas Widjaja.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Antara News

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU