Batu - Upaya memperkuat sektor ekonomi kerakyatan di Kota Batu mulai diarahkan pada satu gagasan besar: pendirian Mall UMKM. Ide ini bukan sekadar wacana, tapi bagian dari janji politik Wali Kota Batu, Nurochman atau yang akrab disapa Cak Nur yang ingin memastikan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah memiliki ruang pamer dan ruang gerak yang lebih luas. Bukan hanya demi menggeliatkan UMKM, tetapi juga untuk menopang kekuatan pariwisata yang menjadi tulang punggung kota berjuluk “Swiss kecil di Pulau Jawa” ini.
Selama bertahun-tahun, UMKM di Kota Batu berkembang secara organik. Namun daya saing dan akses pemasaran masih menjadi tantangan. Produk-produk lokal sebenarnya punya kualitas yang tak kalah dari buatan pabrik besar, tetapi sering kali kurang eksposur dan terbatas di pasar tradisional. Mall UMKM digagas sebagai ruang etalase bersama, tempat produk-produk unggulan lokal bisa tampil di depan mata wisatawan, warga kota, bahkan investor.
Baca juga: SR Kota Batu Resmi Dibuka, Harapan Baru Pendidikan Gratis Berbasis Asrama untuk Keluarga Tak Mampu
Lokasi yang dibidik cukup strategis: kawasan Alun-Alun Kota Batu. Titik ini dinilai representatif berdasarkan kajian awal, karena menjadi pusat keramaian dan lalu lintas wisata. Namun hingga kini, Cak Nur belum bisa memastikan lokasi finalnya. Ada pula opsi lain yang mencuat, yaitu memanfaatkan bedak kosong di Pasar Induk Among Tani untuk fungsi display produk, meskipun bentuknya bukan mal dalam arti fisik bangunan baru. Saat ini, desain masih dalam tahap perencanaan dan belum bisa direalisasikan pada tahun 2025 ini.
Cak Nur menilai bahwa potensi produk UMKM Batu sangat besar, mulai dari makanan olahan, minuman herbal, kerajinan tangan, hingga produk pertanian turunan. Semua ini memiliki pasar, terlebih jika dikemas dan ditampilkan dengan pendekatan visual dan narasi yang kuat. Mall UMKM nantinya bukan hanya menjadi ruang pamer, tapi juga tempat edukasi dan branding, sekaligus simbol gerakan “bela dan beli produk lokal”.
Data dari Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumperindag) Kota Batu menunjukkan bahwa jumlah UMKM terus tumbuh. Pada 2023 tercatat sebanyak 5.900 unit, dan naik signifikan menjadi 7.552 unit di tahun 2024. Mayoritas pelaku usahanya bergerak di sektor makanan dan minuman dua sektor yang sangat cocok dikembangkan sebagai produk unggulan pariwisata.
Kepala Diskumperindag Kota Batu, Aries Setiawan, menyebut pembangunan Mall UMKM bukan sekadar proyek fisik, tetapi simbol komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat daya tahan UMKM di tengah ketidakpastian ekonomi global. Selain pembangunan fisik, pihaknya juga terus menggulirkan program pendampingan usaha, pelatihan kewirausahaan, dan fasilitasi akses permodalan. Semua diarahkan untuk memastikan pelaku usaha lokal tidak hanya bertahan, tapi juga tumbuh dan naik kelas.
Kota Batu memiliki posisi strategis sebagai daerah wisata. Setiap akhir pekan, ribuan wisatawan datang dan meninggalkan kota ini dengan pengalaman beragam. Mall UMKM diharapkan menjadi salah satu simpul baru dalam pengalaman itu tempat mereka mengenal, mencoba, dan membawa pulang cerita tentang produk lokal. Jika ini terwujud, bukan hanya ekonomi yang tumbuh, tapi juga harga diri masyarakat yang merasa produknya diakui, dihargai, dan dibanggakan. Sebuah langkah kecil yang bisa menjadi penanda besar dalam perjalanan ekonomi kerakyatan Kota Batu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemkot Batu