Sabtu, 25 OKTOBER 2025 • 05:52 WIB

Ketika Warna Mulai Pudar: Kisah Senja di Kampung-Kampung Tematik Kota Malang

Author

Kampung Warna Warni Kota Malang (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)

Malang - Ada masa ketika setiap sudut Kota Malang begitu hidup oleh warna. Dinding-dinding rumah di pinggir Sungai Brantas menjelma kanvas raksasa, jembatan menjadi tempat berswafoto, dan lorong-lorong sempit berubah jadi galeri terbuka. Dari Kampung Warna-Warni Jodipan, Kampung Tridi, Kampung Biru Arema, hingga Kampung Putih, semua berdiri sebagai simbol kebangkitan warga biasa yang berani bermimpi: menjadikan kampungnya destinasi wisata dunia.

Namun, warna itu kini mulai memudar. Cat yang dulu mencolok kini kusam dimakan waktu. Wahana permainan berdebu, jembatan kaca retak tak terurus, dan suara tawa wisatawan tak lagi menggema seperti dulu. Dari 23 kampung tematikyang sempat menjadi kebanggaan Kota Malang, hanya segelintir yang masih bertahan menyalakan semangatnya. Sisanya perlahan tenggelam dalam keheningan dan kenangan kejayaan masa lalu.

Di balik tembok yang mulai mengelupas, tersimpan cerita perjuangan warga. Banyak pengelola kini berjalan sendiri, mengandalkan kas kecil hasil tiket dan parkir. Bantuan pemerintah yang dulu mengalir, kini kian menipis. Koordinasi antar kampung yang sempat jadi kekuatan, bergeser menjadi persaingan sunyi. Masing-masing berjuang menarik wisatawan dengan caranya sendiri, tanpa lagi berbagi mimpi yang sama.

Padahal, dulu kekuatan wisata tematik Malang bukan pada megahnya spot foto atau cat warna-warni, tapi pada gotong royong dan kreativitas warganya. Mereka bukan sekadar mengejar wisatawan, melainkan menghidupkan kebanggaan akan tempat tinggal sendiri.

Kini, saat warna mulai hilang dari dinding-dinding itu, mungkin sudah waktunya menyalakan kembali semangat di dalam hati. Pemerintah perlu hadir bukan sekadar dengan anggaran, tapi juga dengan pendampingan dan strategi keberlanjutan. Warga perlu kembali dilibatkan, bukan hanya sebagai penjaga, tapi sebagai pencipta cerita baru di kampungnya sendiri.

Kampung-kampung tematik pernah menjadikan Malang kota yang berwarna, bukan hanya di peta wisata, tapi juga dalam ingatan bangsa. Agar warna itu tak benar-benar lenyap, sudah saatnya semua pihak kembali melukis bukan dengan kuas dan cat, melainkan dengan rasa cinta dan kebersamaan yang dulu pernah membuat kota ini bersinar.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Group Media Malang

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU