Malang - Universitas Brawijaya mengambil langkah besar dengan mengelola Transmart Malang dan mengubahnya menjadi pusat perbelanjaan berbasis pendidikan. Inisiatif ini menandai pergeseran fungsi pusat belanja dari sekadar ruang transaksi menjadi ruang belajar, riset, dan inkubasi bisnis yang terintegrasi dengan aktivitas akademik. Lokasinya yang berada di kawasan strategis Jalan Veteran Malang dinilai sangat dekat dengan denyut kehidupan mahasiswa dan masyarakat kota.
Pengelolaan Transmart Malang dilakukan melalui PT Brawijaya Multi Usaha, badan usaha milik Universitas Brawijaya. Keterlibatan langsung kampus dalam pengelolaan pusat perbelanjaan ini menunjukkan komitmen serius untuk memperluas peran perguruan tinggi di luar ruang kelas. Kampus tidak hanya menjadi tempat belajar teori, tetapi juga hadir sebagai aktor nyata dalam ekosistem ekonomi kota.
Universitas Brawijaya melihat potensi besar dari lingkungan sekitar Transmart Malang. Ribuan mahasiswa beraktivitas setiap hari di kawasan tersebut. Data internal kampus mencatat jumlah mahasiswa aktif Universitas Brawijaya mencapai lebih dari 70 ribu orang. Angka ini menjadi pasar potensial yang sangat besar jika dikelola dengan pendekatan yang tepat. Inilah dasar utama munculnya gagasan menjadikan Transmart Malang sebagai pusat perbelanjaan yang relevan dengan dunia pendidikan.
Konsep yang diusung bukan sekadar rebranding visual. Universitas Brawijaya ingin mengubah fungsi ruang secara menyeluruh. Transmart Malang akan diarahkan menjadi living laboratory. Mahasiswa dari berbagai fakultas dapat menggunakan area ini sebagai tempat praktik langsung. Mahasiswa bisnis belajar mengelola tenant. Mahasiswa komunikasi menguji strategi promosi. Mahasiswa desain mengembangkan visual produk dan interior. Semua proses terjadi di ruang nyata dengan interaksi langsung bersama pengunjung.
Dalam konsep barunya, Transmart Malang akan menyediakan area khusus untuk produk inovasi mahasiswa. Produk hasil riset dan pengembangan tidak lagi berhenti di laporan akademik. Produk tersebut dapat langsung diuji pasar. Mahasiswa belajar memahami respons konsumen secara riil. Proses ini memberi pengalaman yang sulit diperoleh jika hanya mengandalkan simulasi di kelas.
Sektor food and beverage juga menjadi fokus utama. Mahasiswa yang memiliki usaha kuliner akan diberi ruang untuk berkembang. Tenant kuliner dirancang sebagai inkubator bisnis. Kampus memberi pendampingan manajemen, pengemasan, dan pemasaran. Dengan cara ini, mahasiswa tidak hanya belajar menjadi pencipta produk, tetapi juga pengelola usaha yang berkelanjutan.
Selain itu, Transmart Malang direncanakan memiliki ruang workshop dan kelas terbuka. Area ini dapat digunakan untuk pelatihan singkat, diskusi publik, dan presentasi karya. Konsep belajar menjadi lebih cair dan inklusif. Masyarakat umum dapat ikut serta. Interaksi antara kampus dan publik terjadi tanpa sekat formal.
Universitas Brawijaya juga membuka peluang kolaborasi lintas sektor. Transmart Malang dapat menjadi titik temu antara akademisi, pelaku industri, komunitas kreatif, dan UMKM. Produk UMKM lokal berpeluang masuk ke dalam sistem tenant dengan pendampingan dari kampus. Skema ini memperkuat peran universitas sebagai penggerak ekonomi lokal.
Langkah ini juga menjawab tantangan pusat perbelanjaan konvensional yang mengalami penurunan kunjungan. Perubahan pola belanja ke platform digital membuat banyak mall kehilangan daya tarik. Dengan menghadirkan fungsi edukatif dan komunitas, Transmart Malang diharapkan kembali relevan. Pengunjung tidak hanya datang untuk berbelanja, tetapi juga untuk belajar, berjejaring, dan beraktivitas.
Dari sisi mahasiswa, keberadaan Transmart Malang versi baru memberi banyak manfaat praktis. Mahasiswa dapat menjalani magang tanpa harus keluar kota. Mereka terlibat langsung dalam pengelolaan ruang komersial nyata. Pengalaman ini memperkuat kesiapan kerja setelah lulus. Data tracer study menunjukkan bahwa lulusan dengan pengalaman praktik cenderung lebih cepat terserap di dunia kerja.
Bagi dosen, Transmart Malang dapat menjadi sumber data penelitian terapan. Aktivitas transaksi, perilaku konsumen, dan dinamika tenant dapat dianalisis secara ilmiah. Hasil riset ini kemudian dapat kembali digunakan untuk pengembangan kebijakan pengelolaan dan pembelajaran. Terjadi siklus pengetahuan yang saling menguatkan.
Konsep pusat perbelanjaan berbasis pendidikan ini juga berpotensi menjadi model nasional. Jika berhasil, pendekatan serupa dapat diterapkan di kota lain. Kampus tidak lagi diposisikan sebagai menara gading. Kampus hadir di ruang publik dan terlibat langsung dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat.
Universitas Brawijaya menargetkan pengelolaan Transmart Malang berjalan penuh setelah seluruh proses administrasi dan teknis selesai. Tahap awal difokuskan pada penataan konsep, kurasi tenant, dan integrasi program akademik. Implementasi dilakukan bertahap agar model ini benar-benar matang dan berkelanjutan.
Ke depan, Transmart Malang tidak hanya dikenal sebagai pusat belanja. Tempat ini diarahkan menjadi ikon baru kolaborasi antara pendidikan dan industri. Mahasiswa belajar. Masyarakat mendapat manfaat. Kampus memperluas dampak sosialnya. Kota Malang memperoleh ruang publik baru yang produktif dan relevan dengan zaman.
Langkah Universitas Brawijaya ini menunjukkan bahwa transformasi ruang komersial dapat dilakukan dengan pendekatan edukatif. Pusat perbelanjaan tidak harus kehilangan fungsi di tengah perubahan era digital. Dengan konsep yang tepat, mall justru bisa menjadi ruang belajar bersama yang hidup dan berdampak nyata.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung