Malang - Program Makan Bergizi Gratis atau MBG di Kota Malang kini memasuki fase pengawasan yang lebih ketat. Tidak hanya fokus pada distribusi makanan kepada pelajar, pemerintah bersama aparat penegak hukum mulai membuka ruang bagi masyarakat untuk ikut mengawasi kualitas layanan yang diberikan.
Kejaksaan Negeri Kota Malang resmi membuka posko pengaduan bagi masyarakat yang menemukan dugaan masalah dalam pelaksanaan program MBG. Langkah ini menjadi sinyal bahwa program yang menyasar kebutuhan gizi pelajar tersebut tidak hanya dinilai dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga kualitas makanan, ketepatan distribusi, hingga kepatuhan terhadap standar operasional yang telah ditetapkan.
Masyarakat kini dapat melaporkan berbagai temuan di lapangan. Mulai dari makanan yang dianggap tidak layak konsumsi, keterlambatan distribusi, ketidaksesuaian porsi, hingga persoalan teknis lain yang berpotensi mengganggu jalannya program. Kehadiran posko pengaduan ini diharapkan menjadi jalur kontrol publik agar program berjalan sesuai tujuan awalnya, yaitu meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah.
Langkah pengawasan ini muncul di tengah tingginya perhatian masyarakat terhadap kualitas menu MBG. Beberapa waktu lalu, muncul berbagai diskusi mengenai kelayakan menu yang dibagikan kepada siswa. Menanggapi hal tersebut, sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Malang menegaskan bahwa menu yang disiapkan telah mengacu pada standar kebutuhan gizi dan regulasi yang berlaku.
Pihak SPPG menjelaskan bahwa penyusunan menu dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan nutrisi penerima manfaat serta menyesuaikan pagu anggaran yang telah ditetapkan pemerintah. Dalam praktiknya, penyedia layanan juga melibatkan ahli gizi untuk memastikan keseimbangan kandungan makanan yang didistribusikan kepada siswa.
Selain aspek gizi, perhatian juga diarahkan pada kebersihan dan keamanan pangan. Beberapa dapur penyedia MBG disebut telah mengantongi sertifikat kelayakan higiene dan sanitasi sebagai bentuk komitmen menjaga mutu makanan yang dikonsumsi pelajar setiap hari.
Di tingkat nasional, pengawasan program MBG juga terus diperkuat melalui sistem pelaporan yang memungkinkan masyarakat mengirimkan laporan berupa foto maupun video terkait makanan yang diterima. Mekanisme ini menjadi bagian dari upaya menciptakan transparansi sekaligus mempercepat tindak lanjut apabila ditemukan permasalahan di lapangan.
Pengawasan yang melibatkan masyarakat menjadi faktor penting karena program MBG berkaitan langsung dengan kesehatan dan tumbuh kembang anak. Ketika publik diberi akses untuk melapor, maka kualitas layanan tidak hanya bergantung pada evaluasi internal pemerintah, tetapi juga mendapat pengawasan langsung dari penerima manfaat dan lingkungan sekitar.
Dengan adanya posko pengaduan di Kota Malang, masyarakat kini memiliki saluran resmi untuk menyampaikan keluhan maupun masukan. Harapannya, program Makan Bergizi Gratis tidak hanya berjalan masif, tetapi juga mampu menjaga kualitas, keamanan, dan manfaat yang benar-benar dirasakan oleh para siswa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung