Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 09 JULI 2025 • 12:16 WIB

Kopi Gerobak Keliling Menjamur di Kota Malang

Kopi Gerobak Keliling Menjamur di Kota MalangDeretan kopi keliling di Kota Malang (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)

Malang – Fenomena kopi gerobak keliling semakin menjamur di berbagai sudut Kota Malang. Keberadaannya kini tak lagi dianggap sekadar pelengkap ruang publik, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup generasi urban. Fenomena ini disebut-sebut sebagai imbas dari gelombang ketiga kopi atau third wave coffee yang kini semakin membumi dalam kehidupan masyarakat.

Jika dahulu ngopi identik dengan duduk santai di kafe atau warung kopi stasioner, kini gerobak kopi hadir dengan pendekatan yang lebih fleksibel. Dengan hanya bermodalkan gerobak sederhana yang dipasang di motor atau didorong manual, para pelaku usaha kopi keliling menyajikan kopi berkualitas dengan harga terjangkau, mulai dari Rp8.000 hingga Rp10.000 per gelas.

Bukan sekadar jualan kopi instan, gerobak kopi keliling ini menawarkan berbagai varian seperti kopi susu gula aren, es kopi klasik, hingga menu dengan campuran krimer kekinian. Tidak jarang, para pelaku usaha ini menyeduh biji kopi pilihan dari petani lokal, sesuai semangat third wave coffee yang menekankan kualitas dan asal-usul biji kopi.

Baca juga: Rencana Kedatangan Dr Zakir Naik di Malang Menuai Penolakan dari Warga Lintas Agama

Salah satu penjual kopi keliling, Yoga (29), menyebut bahwa konsep gerobak membuatnya bisa menjangkau lebih banyak pelanggan dalam waktu singkat. “Saya bisa pindah-pindah, kadang di kampus, kadang di taman. Pelanggan saya macam-macam, mulai mahasiswa sampai pekerja kantoran yang buru-buru tapi tetap pengen ngopi enak,” ujarnya.

Selain praktis dan murah, gerobak kopi keliling juga menawarkan suasana santai dan penuh interaksi. Banyak pelanggan merasa lebih akrab karena bisa ngobrol langsung dengan penjual sambil menunggu kopi diracik. Tak heran, kehadiran kopi gerobak kerap menjadi titik kumpul kecil yang mempertemukan orang dari berbagai latar belakang.

“Beda rasanya dibanding beli kopi di kafe. Di sini ngobrolnya lebih hidup. Kadang ada obrolan acak dengan orang lain juga. Kopinya enak, harganya masuk akal,” kata Aldi, mahasiswa di kawasan Soekarno-Hatta, Malang.

Inovasi Bisnis Kecil yang Tumbuh Cepat

Tak sedikit pelaku UMKM yang awalnya membuka kedai kecil, kini menambah unit bisnis dengan versi gerobak keliling. Gerobak dijadikan strategi jemput bola, terutama menyasar lokasi-lokasi dengan keramaian temporer, seperti CFD, car free night, atau event komunitas.

Dengan bantuan media sosial, mereka menyebar lokasi gerobak tiap harinya, menjalin interaksi langsung dengan pelanggan, dan membangun loyalitas. “Kami biasanya update di Instagram lokasi mangkal, jadi pelanggan tahu hari ini saya di mana. Kadang juga ada yang DM minta mampir ke lokasi mereka,” tutur Restu, pemilik akun @ngopikejalan.

Akademisi dan pelaku industri kopi menilai, gerobak kopi keliling bukan sekadar tren sesaat. Justru sebaliknya, ia muncul sebagai bentuk adaptasi atas perubahan gaya hidup dan pola konsumsi. Konsep ngopi yang fleksibel, murah, dan tetap berkualitas menjadi alasan kuat mengapa model ini begitu cepat diterima.

Namun, tantangan tetap ada. Persaingan antar gerobak kopi semakin ketat. Oleh karena itu, inovasi menjadi kunci. Mulai dari desain gerobak yang unik, kualitas kopi yang terjaga, hingga kemampuan merespon pasar secara cepat menjadi faktor penentu keberlangsungan usaha ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Kopi Gerobak Keliling Menjamur di Kota Malang

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!