Car free day jalan ijen yang di penuhi PKL (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)
Malang – Jalan Ijen setiap Minggu pagi selalu punya daya tarik tersendiri. Pepohonan rindang, udara pagi yang sejuk, dan suasana bebas kendaraan membuat Car Free Day (CFD) Jalan Ijen jadi salah satu ruang publik paling diminati warga Kota Malang. Namun, belakangan ini, suasana yang biasanya tenang dan tertib mulai berubah.
Para pengunjung kini mengeluhkan banyaknya pedagang kaki lima (PKL) yang mulai merangsek masuk ke area utama CFD. Mulai dari penjual makanan, mainan, pakaian, hingga jasa menggambar karikatur tampak memenuhi jalur pedestrian dan sebagian badan jalan. Ruang yang dulunya lapang untuk berjalan santai, berolahraga, atau bermain dengan anak-anak, kini terasa sempit dan sesak.
Baca juga: Trotoar Depan Gajamada Plaza Dikuasai PKL, Pejalan Kaki Kembali Jadi Korban
“Dulu kami bisa jogging atau jalan bareng anak dengan leluasa. Sekarang harus zig-zag menghindari lapak. Rasanya bukan Car Free Day lagi, tapi kayak pasar tumpah,” ujar Rina (35), warga Tlogomas yang rutin datang ke CFD setiap Minggu pagi.
Kegiatan Car Free Day seharusnya menjadi momen mingguan untuk warga melepas penat, berinteraksi sosial, dan menikmati ruang kota tanpa kebisingan kendaraan. Namun ketika aktivitas ekonomi informal mulai mendominasi, orientasi CFD pun perlahan bergeser dari ruang rekreasi menjadi zona komersial.
Hal ini bukan berarti menafikan peran PKL. Kehadiran mereka bisa menjadi warna tersendiri dan mendukung ekonomi mikro. Namun ketika jumlah dan penyebarannya tak terkendali, kenyamanan warga yang datang untuk berolahraga atau bersantai jadi terganggu.
“Kalau PKL-nya ditata, mungkin masih oke. Tapi ini kadang sampai di tengah jalan, bikin orang susah lewat,” tambah Ardi (29), pengunjung dari daerah Blimbing.
Fenomena ini menunjukkan pentingnya pengawasan yang konsisten dan penataan yang adil. Pemerintah Kota Malang harus mengambil sikap jelas: apakah CFD akan tetap jadi ruang publik untuk aktivitas fisik dan keluarga, atau akan bergeser jadi arena niaga mingguan?
Jika ingin menjaga ruh CFD sebagai ruang sehat dan inklusif, maka zonasi PKL perlu ditegaskan. Misalnya, menyiapkan area khusus untuk pedagang yang tidak mengganggu jalur pejalan kaki atau pengguna sepeda. Sejumlah kota besar sudah menerapkan konsep semacam ini, di mana CFD tetap hidup dengan keseimbangan antara fungsi rekreatif dan ekonomi.
Jalan Ijen adalah salah satu ikon Kota Malang. Dengan deretan bangunan kolonial dan jalur hijau yang cantik, kawasan ini bukan hanya tempat berolahraga, tapi juga menjadi wajah kota. Jika setiap minggunya kawasan ini berubah jadi pasar liar yang semrawut, maka bukan hanya warga yang kecewa, tapi juga identitas kota yang perlahan terkikis.
Car Free Day seharusnya menjadi perayaan atas hak warga untuk menikmati kota tanpa gangguan kendaraan, tanpa polusi, dan tanpa komersialisasi berlebihan. Menjaga kenyamanan di CFD bukan sekadar soal estetika, tapi juga soal akses yang adil terhadap ruang kota.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung