Candi Jago Kab Malang (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)
Malang - Di balik perbukitan dan sawah hijau yang tenang di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, berdiri megah sebuah peninggalan sejarah yang mungkin tak setenar Candi Singosari, tapi menyimpan kisah yang tak kalah penting: Candi Jago. Meski hanya tersisa bagian bawah bangunannya, candi ini tetap memancarkan aura keagungan masa lalu sebuah saksi bisu kejayaan Kerajaan Singhasari dan pengaruh kuat agama Hindu-Buddha di tanah Jawa.
Candi Jago dibangun pada abad ke-13, dan disebut sebagai tempat pemujaan untuk Raja Wisnuwardhana, penguasa Singhasari yang dikenal bijaksana. Dalam kitab Negarakertagama, candi ini disebut sebagai “Jajaghu,” yang berarti tempat suci. Meski sebagian besar struktur candinya telah runtuh dimakan waktu dan gempa, relief-relief yang terukir di dindingnya masih terjaga, menampilkan kisah-kisah dari Kakawin Kunjarakarna dan Tantri Kamandaka. Detail ukirannya halus, menggambarkan narasi dengan ekspresi yang kuat, seolah menyimpan pesan moral dan spiritual dari zaman keemasan Nusantara.
Baca juga: Pemkab Malang Siapkan Jalur Alternatif Menuju Wisata Pantai Selatan di Musim Liburan Sekolah
Yang menarik, Candi Jago dibangun dari batu andesit dan memiliki bentuk punden berundak, menandakan perpaduan antara konsep kepercayaan megalitik kuno dan ajaran Hindu-Buddha. Setiap undakan menjadi simbol tingkatan spiritual, mengajak pengunjung merenung sambil menapaki jejak leluhur. Saat pagi hari, kabut tipis yang menyelimuti area candi memberi kesan magis, seolah membuka portal waktu menuju masa lalu.
Meski ukurannya tidak terlalu besar, suasana di sekitar candi sangat tenang dan cocok untuk wisatawan yang ingin menikmati sisi lain dari Malang bukan lewat hiruk pikuk kota atau gemerlap tempat wisata modern, melainkan lewat kontemplasi sejarah dan keheningan. Tak jauh dari lokasi, terdapat juga pemakaman keluarga, serta taman kecil yang kerap dijadikan tempat bersantai oleh warga sekitar.
Akses menuju Candi Jago cukup mudah, hanya sekitar 40 menit dari pusat Kota Malang. Jalannya sudah beraspal baik, dan pengunjung bisa singgah di Pasar Tumpang untuk mencicipi jajanan lokal sebelum atau sesudah berwisata. Tidak ada tiket masuk khusus, namun ada kotak donasi sukarela yang digunakan warga untuk merawat lingkungan situs.
Candi Jago mungkin bukan destinasi wisata yang viral di media sosial, tapi justru di situlah daya tariknya. Ia tidak mencari sorotan, tapi menunggu dengan sabar bagi siapa pun yang ingin mengenal sejarah dengan lebih dalam. Dalam diamnya, Candi Jago berbicara—tentang raja-raja yang pernah bertahta, tentang kepercayaan yang menyatukan, dan tentang budaya yang membentuk jati diri bangsa ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Online