Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 17 SEPTEMBER 2025 • 00:12 WIB

Menjaga Nafas Tengger Melalui Batik Tosarian

Menjaga Nafas Tengger Melalui Batik TosarianWorkshop batik tosarian (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)
Kab Pasuruan - Di lereng Bromo, bukan hanya mata yang dimanjakan oleh hamparan lautan pasir dan matahari terbit yang memesona. Ada kehidupan budaya yang terus berdenyut, diwariskan turun-temurun oleh Suku Tengger. Salah satunya hidup lewat Batik Tosarian, karya seni yang bukan sekadar kain bermotif, melainkan sebuah cara untuk menjaga, merawat, dan mengenalkan jati diri Tengger kepada dunia.

Tosarian lahir dari kegelisahan. Sang pendiri, Pak Yayak, melihat budaya Tengger perlahan terkikis oleh modernisasi. Ia lalu berinisiatif menuangkan nilai-nilai luhur Tengger ke dalam pola batik. Hasilnya adalah karya-karya seperti Mayu Bumi, motif khusus yang sarat filosofi dan bahkan memerlukan ritual sebelum dibuat, karena dianggap sakral.

Batik ini kemudian diwujudkan dalam beragam bentuk: udeng (ikat kepala), kaweng (selendang khas), satak (simbol identitas), hingga kerajinan tangan unik yang mampu menggugah rasa penasaran wisatawan. Setiap helai kain adalah cerita, setiap pola adalah pengingat bahwa budaya Tengger tetap hidup.

Menjaga Nafas Tengger Melalui Batik TosarianAplikasi batik tosarian (Foto Istimewa)

Peran Batik Tosarian semakin nyata ketika hadir di Tosari Sanja Desa, sebuah desa wisata yang menggabungkan budaya dan pertanian. Wisatawan yang datang tak hanya menikmati panorama, tetapi juga diajak melukis batik sendiri, belajar filosofi motif, hingga membawa pulang udeng dan kaweng sebagai cinderamata.

Melalui paket wisata ini, batik bukan lagi sekadar produk, melainkan media storytelling budaya Tengger. Cara memakai udeng, makna di balik kaweng, hingga simbol-simbol pada satak, semua menjadi pintu masuk untuk memahami filosofi hidup masyarakat Tengger yang menjunjung harmoni dengan alam.

Apa yang dilakukan Tosarian mendapat apresiasi luas. Pemerintah Kabupaten Pasuruan, misalnya, mendorong penggunaan udeng setiap hari Rabu di sekolah. Dinas Pendidikan hingga lembaga wisata turut melibatkan Tosarian dalam berbagai program. Dukungan ini menunjukkan bahwa batik Tengger bukan hanya karya seni, tetapi juga identitas kolektif yang layak dijaga bersama.

Meski demikian, perjalanan Tosarian tidak mudah. Tantangan terbesar adalah minimnya minat generasi muda untuk menekuni batik. Namun, wisatawan yang antusias belajar dan membeli karya Tosarian menjadi energi baru untuk terus melestarikan tradisi.

Batik Tosarian adalah bukti bahwa budaya tidak harus terkubur oleh zaman. Ia bisa bertransformasi, hadir dalam bentuk baru, tanpa kehilangan akar. Dari kain batik hingga pariwisata budaya, semua menyatu menjadi gerakan kolektif untuk menjaga Tengger tetap hidup di tengah arus globalisasi.

Bagi kita, cerita Tosarian adalah inspirasi. Bahwa setiap warisan budaya, sekecil apa pun, bisa menjadi sumber daya besar jika dikelola dengan cinta dan visi. Bahwa kain bukan hanya kain, melainkan lembaran identitas, doa, dan harapan untuk masa depan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Menjaga Nafas Tengger Melalui Batik Tosarian

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!