Penanggalan suku tengger (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)
Kab Pasuruan - Pernahkah kita membayangkan bahwa waktu bukan hanya deretan angka di kalender, tetapi juga cermin dari cara suatu masyarakat menyatu dengan alam? Bagi Suku Tengger di lereng Bromo, penanggalan bukan sekadar hitungan hari. Ia adalah panduan hidup, pengikat tradisi, sekaligus jembatan spiritual antara manusia dengan semesta.
Kalender yang Menyatu dengan Alam
Penanggalan Suku Tengger menggunakan sistem bulan-matahari, sebuah warisan dari kalender Hindu yang mengacu pada peredaran matahari dan bulan. Tidak seperti kalender Masehi yang kita gunakan sehari-hari, penanggalan ini memiliki 12 bulan khas dengan nama unik: Kasa, Karo, Katiga, Kapat, Kalima, Kanem, Kapitu, Kawolu, Kasanga, Kadasa, Dhesta, dan Kasada.
Setiap bulan terdiri dari 29 -30 hari, dan setiap lima tahun sekali hadir tahun landhung atau tahun kabisat, di mana satu bulan digandakan sehingga jumlahnya menjadi 13 bulan. Tahun istimewa ini ditandai dengan sebuah tradisi sakral: Unan-unan, ritual penyelarasan kembali waktu manusia dengan ritme alam semesta.
Lebih dari Sekadar Kalender
Bagi masyarakat Tengger, penanggalan bukan hanya catatan hari. Ia memiliki fungsi penting dalam kehidupan sehari-hari:
Mecak, sebuah sistem yang menentukan hari baik dan buruk, menjadi pegangan untuk merencanakan aktivitas, mulai dari bercocok tanam hingga melaksanakan pernikahan.
Penanggalan ini juga menjadi acuan dalam menentukan hari-hari besar keagamaan dan upacara adat, salah satunya Yadnya Kasada, persembahan suci di kawah Bromo yang terkenal hingga mancanegara.
Lebih dari itu, kalender ini menjaga harmoni antara manusia dan alam, sebuah filosofi hidup yang sudah berakar dalam ajaran Hindu dan dipraktikkan hingga kini.
Di tengah derasnya arus modernisasi, penanggalan Tengger tetap teguh dipertahankan. Ia bukan hanya sistem waktu, tetapi juga identitas budaya. Mengetahui kapan harus merayakan Kasada atau melaksanakan Unan-unan bukan sekadar tradisi, melainkan cara Suku Tengger menjaga hubungan dengan leluhur, alam, dan Sang Pencipta.
Bagi kita, mengenal penanggalan Tengger adalah sebuah pengingat: bahwa waktu bukan sekadar sesuatu yang lewat di kalender dinding, melainkan alur kehidupan yang selaras dengan bumi tempat kita berpijak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung