News - Malang, 27 Juni 2026. Topeng Malangan selama ini dikenal sebagai salah satu ikon budaya yang melekat kuat dengan identitas Kota Malang. Di balik setiap ukiran dan warna yang menghiasi topeng, tersimpan nilai sejarah, filosofi, dan tradisi yang diwariskan lintas generasi. Namun, Sabtu pagi, 27 Juni 2026, warisan budaya itu menghadirkan kisah baru. Untuk pertama kalinya, sebanyak 15 anak berkebutuhan khusus ikut terlibat langsung dalam proses pembuatan Topeng Malangan melalui kegiatan yang digelar di Griya Kriya Topeng Ramah Difabel, Jalan Kyai Parseh Jaya No. 29, Bumiayu, Kedungkandang, Kota Malang.
Suasana yang biasanya dipenuhi aroma resin dan suara para perajin kini terasa lebih hangat. Sebelas anak dari Sanggar Budaya Anak Nareswari dan empat anak dari Kelurahan Bumiayu duduk berdampingan bersama orang tua serta para pendamping. Mereka yang merupakan anak dengan Down syndrome dan tunagrahita mengikuti setiap tahapan pembuatan topeng dengan penuh semangat. Resin dituangkan perlahan ke dalam cetakan, menjadi langkah awal lahirnya karya yang bukan sekadar benda seni, tetapi juga simbol bahwa budaya dapat diakses oleh siapa saja.
Bagi Sanggar Budaya Anak Nareswari, kegiatan ini bukan hanya pelatihan keterampilan. Program tersebut menjadi bentuk nyata bahwa pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan nilai inklusivitas. Warisan budaya tidak boleh memiliki batas yang membuat sebagian orang merasa tidak memiliki tempat di dalamnya.
Pelatih sekaligus mentor kegiatan, Ndaru Lazarus, menyusun metode pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan motorik setiap peserta. Proses yang lazim dilakukan para perajin diubah menjadi lebih ramah bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Sarung plastik digunakan sebagai pengganti sarung tangan kerja agar lebih nyaman dikenakan, sementara orang tua dan pendamping ikut membantu ketika peserta mengalami kendala komunikasi maupun koordinasi gerak.
Pendekatan tersebut membuat setiap anak dapat mengikuti proses pembuatan topeng sesuai kemampuannya. Tidak ada tuntutan untuk menghasilkan karya yang sempurna. Yang terpenting adalah pengalaman berkarya, keberanian mencoba, dan rasa percaya diri yang tumbuh ketika mereka melihat topeng hasil tangan mereka sendiri mulai terbentuk.
Topeng Malangan yang selama ini identik dengan karakter Panji, Gunungsari, hingga Klana, kali ini hadir dengan makna yang lebih luas. Topeng tidak lagi hanya menjadi simbol kepahlawanan dan spiritualitas dalam budaya Jawa, tetapi juga menjadi media ekspresi bagi anak-anak yang selama ini jarang mendapatkan ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka. Dari tangan Jesika, Agam, Jonathan, dan teman-teman lainnya, lahirlah karya yang memperlihatkan bahwa kreativitas tidak mengenal batas.
Kegiatan Membuat Topeng (Bhekti Setyowibowo / INDOZONE)
Kegiatan membuat topeng ini merupakan bagian kedua dari rangkaian tiga program pelestarian budaya yang dijalankan Sanggar Budaya Anak Nareswari. Sebelumnya, pada Mei 2026, para peserta telah mengikuti pelatihan membatik sampur dengan metode yang juga dirancang ramah difabel. Pada Juli mendatang, mereka akan melanjutkan proses dengan mewarnai topeng hasil karya masing-masing.
Seluruh rangkaian tersebut akan bermuara pada Festival Sendratasik Topeng Malangan yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 1 Agustus 2026. Festival itu akan menghadirkan parade tari, pertunjukan drama tari musik, serta bazar UMKM sebagai ruang pertemuan antara pelestarian budaya, pemberdayaan masyarakat, dan inklusi sosial.
Salah satu panitia kegiatan, Brelliane Semesta Pratiwi, mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, mengatakan bahwa karya para peserta nantinya tidak hanya berhenti di ruang pelatihan.
"Hasil karya mereka nantinya akan dipamerkan di ruang-ruang publik seperti Galeri DPRD Kota Malang, Hotel Mercure, dan Pasar Seni Bareng. Kami ingin membuktikan bahwa Topeng Malangan bukan milik sebagian orang saja," ujarnya.
Sanggar Budaya Anak Nareswari sendiri telah berdiri sejak 2017 dan kini memiliki sekitar 50 anggota aktif. Dalam menjalankan berbagai program budaya inklusif, sanggar tersebut juga berkolaborasi dengan 27 lembaga pendamping anak berkebutuhan khusus di wilayah Malang Raya. Jaringan kolaborasi ini menjadi fondasi penting dalam menghadirkan ruang belajar budaya yang aman, nyaman, dan dapat diikuti oleh setiap anak.
Program pelestarian budaya inklusif ini terlaksana berkat dukungan Dana Abadi Kebudayaan 2025 melalui program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan, bersama dukungan LPDP Kementerian Keuangan. Sinergi tersebut membuka peluang agar pelestarian budaya tidak hanya berfokus pada menjaga tradisi, tetapi juga memperluas manfaatnya bagi kelompok masyarakat yang selama ini belum banyak terlibat.
Di Griya Kriya Topeng Ramah Difabel, Topeng Malangan kini tidak hanya dipandang sebagai hasil karya seni tradisional. Ia menjadi simbol bahwa budaya akan tetap hidup ketika mampu merangkul semua orang. Wajah Topeng Malangan memang tidak berubah, tetapi makna yang dibawanya kini menjadi lebih kaya. Warisan budaya itu tidak lagi hanya menceritakan masa lalu, melainkan juga menghadirkan masa depan yang lebih inklusif, ramah, dan benar-benar menjadi milik semua.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung