Salah satu ikon yang ada di taman kemesraan. (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)
Kabupaten Malang - Kabut tipis masih bergantung di antara deretan hutan pinus ketika roda mobil pertama kali melewati gerbang berornamen gapura Jawa di Jalan Tretes, Bendosari. Begitu menjejak area parkir, dua patung raksasa Kamajaya dan Dewi Ratih—dewa‑dewi cinta dalam epos pewayangan—menyambut setiap tamu, seakan memberi isyarat bahwa Taman Kemesraan bukan sekadar taman hiburan, melainkan pintu menuju kisah romantik yang hidup di udara pegunungan Pujon.
Diresmikan pada 2020, destinasi seluas lebih dari 10 hektare ini sengaja memadukan lanskap alami—lembah, sungai jernih, air terjun mini—dengan ikon budaya Nusantara. Patung garuda, lingga‑yoni, cakil, hingga relief Ganesha tersebar di penjuru taman, menciptakan suasana bak “wisata negeri dongeng” yang kerap menjadi perbincangan warganet lokal sejak tahun lalu.
Namun pesona Taman Kemesraan bukan cuma patung. Di sisi timur, jalur setapak berbatu menuntun pengunjung ke taman bunga warna‑warni dan sebuah danau kecil. Di sinilah perahu dayung bersandar, siap mengantar keluarga memberi pelet ikan sembari merasakan sejuknya udara 1 100 mdpl. Sumber air pegunungan yang sama juga mengisi kolam renang alami—favorit anak‑anak yang ingin “berendam awan” di siang hari. Fasilitas outbound, ATV, serta camping‑ground berumput halus melengkapi pilihan aktivitas bagi rombongan sekolah maupun komunitas pecinta alam.
Tiket masuk yang ramah di kantong menjadi alasan lain “kemesraan” ini cepat viral. Pada hari kerja pengelola mematok Rp 15 000, sementara akhir pekan atau musim libur berada di kisaran Rp 20 000–25 000—sudah termasuk welcome drink teh, kopi, atau jamu tradisional. Penyewaan tenda lengkap (kapasitas empat orang) dipatok mulai Rp 175 000 per malam, dan wahana berbayar seperti ATV dikenai tarif terpisah.
Jam operasionalnya fleksibel, 08.00–17.00 WIB setiap hari. Berjarak 16 km dari Alun‑Alun Kota Batu, perjalanan dapat ditempuh 30–40 menit via jalur berkelok yang kini diperlebar Dinas PU setempat. Area parkir pun sengaja dibuat dua tingkat untuk memecah kepadatan, sehingga bus pariwisata bisa bergantian menaik‑turunkan penumpang tanpa harus memblokade jalan desa.
Menariknya, sentuhan multikultural tampak jelas: selain mushola, pengelola menyediakan kapel kecil, pura, dan punden. “Kami ingin pengunjung belajar saling menghormati sambil liburan,” kata seorang staf di kafe Daun Coklat (Dancok) yang meracik minuman kakao panas—menu andalan setelah tubuh diguyur hawa dingin Pujon.
Bagi pemburu konten media sosial, golden hour sore hari adalah saat terbaik. Pendar matahari di balik bukit memantul di permukaan danau dan menyorot patung Kamajaya‑Ratih dengan lembut—tanpa filter berlebih, foto sudah tampak sinematik. Sementara itu, keluarga yang membawa balita kerap memilih hamparan rumput di samping kolam teratai; di sana bale‑bale bambu disediakan gratis sebagai area piknik.
Dengan paket lengkap—alam, budaya, edukasi, hingga toleransi—Taman Kemesraan cepat naik kelas dari sekadar “taman selfie” menjadi laboratorium ekowisata berbasis komunitas. Tak heran jika pada puncak liburan sekolah tahun ini, rata‑rata kunjungan harian tembus 2 500 orang, atau naik hampir 40 persen dibanding periode yang sama 2024, menurut catatan pengelola. Siapa pun yang rindu menepi sejenak dari hiruk‑pikuk kota, tapi enggan merogoh kocek dalam‑dalam, akan mudah jatuh hati pada Taman Kemesraan. Di sini, romansa mitologi Jawa, kesejukan alam, dan kesederhanaan warga desa bertaut menjadi satu—seperti janji Kamajaya dan Dewi Ratih yang mengawali setiap langkah di gerbang: bahwa cinta, kebaikan, dan kemesraan sejati memang layak dirayakan bersama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung