Monumen Pesawat Fresco di Jalan Soekarno Hatta, Malang (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)
Malang – Kota Malang dikenal tidak hanya karena keindahan alam dan atmosfer akademisnya, tetapi juga sebagai kota yang menyimpan banyak cerita sejarah. Salah satu simbol yang menandai masa lalu penuh dinamika adalah Monumen Pesawat MIG-17 Fresco yang berdiri kokoh di perempatan Jalan Soekarno-Hatta. Monumen ini bukan sekadar pajangan, melainkan pengingat atas masa kejayaan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) di era 1960-an.
Dikutip dari laman indomiliter.com, pesawat MiG-17 pernah menjadi bagian dari armada tempur modern yang dimiliki Indonesia, khususnya pada masa hubungan erat dengan Uni Soviet. Pesawat ini datang sebagai bagian dari paket kerja sama militer, bersama MiG-15 Fagot, MiG-21 Fishbed, pembom strategis Tu-16, dan jenis lainnya. MiG-17 mulai memperkuat AURI sejak 1960, namun hanya aktif kurang dari satu dekade. Pesawat ini dipensiunkan pada 1969, menjadikannya salah satu jet tempur dengan masa tugas singkat dalam sejarah militer Indonesia.
Baca juga: Menikmati Keindahan Gunung Banyak Kota Batu di Sore Hari Bisa Saksikan Paralayang Lepas Landas
MiG-17 Fresco sendiri merupakan rancangan dari biro desain Mikoyan-Gurevich, yang dikenal sebagai salah satu produsen pesawat militer paling sukses dari Uni Soviet. Secara teknis, pesawat ini adalah versi penyempurnaan dari MiG-15. Keduanya memiliki kemiripan bentuk dan spesifikasi, namun MiG-17 dibedakan dengan keberadaan tiga sirip kecil di sayapnya, berbeda dengan MiG-15 yang hanya memiliki dua.
Menariknya, pesawat ini sejatinya didatangkan untuk memperkuat Operasi Trikora—misi militer Indonesia dalam membebaskan Irian Barat dari kekuasaan Belanda. Namun, operasi besar-besaran tersebut urung digelar karena Belanda akhirnya mundur. Banyak pihak meyakini keputusan itu dipengaruhi oleh kekuatan militer Indonesia saat itu, yang menjadikan AURI sebagai angkatan udara terkuat keempat di dunia pada dekade 60-an.
Kini, salah satu dari armada MiG-17 tersebut dipajang secara permanen di tengah taman bundaran Jalan Soekarno-Hatta, menjelma sebagai ikon kota sekaligus pengingat akan kekuatan udara Indonesia di masa lampau. Lokasi monumen yang berdekatan dengan kampus dan kawasan bisnis menjadikannya titik orientasi populer sekaligus spot foto yang banyak diburu, terutama oleh pencinta sejarah dan warga lokal.
Meski cukup menarik untuk diabadikan, pengunjung disarankan berhati-hati bila ingin berfoto di sekitar monumen, mengingat posisi yang berada tepat di tengah perempatan jalan dengan lalu lintas yang cukup padat. Namun demikian, Monumen MIG-17 tetap menjadi simbol kuat peran Kota Malang dalam sejarah pertahanan Indonesia, terutama dengan keberadaan pangkalan udara strategis AURI di Lanud Abdulrahman Saleh, Pakis, Kabupaten Malang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Online