Rabu, 17 SEPTEMBER 2025 • 00:27 WIB

Makna Filosofis Sarung di Suku Tengger: Identitas, Status, dan Kehangatan

Author

Masyarakat suku tengger (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)

Kab Pasuruan - Di lereng Gunung Bromo sekaligus wilayah Suku Tengger, sarung bukan hanya sekadar kain pelapis tubuh dari angin dingin ia menyimpan makna dalam yang tumbuh bersama budaya dan tradisi mereka. Sejak zaman nenek moyang, sarung telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas suku ini.

Sarung digunakan oleh semua kalangan, pria dan wanita, tua maupun muda. Fungsinya pun ganda: melindungi dari hawa sejuk di dataran tinggi, sekaligus menandai status sosial dan identitas budaya.

Bagi perempuan Tengger, posisi simpul sarung memiliki arti spesial. Jika simpul berada di pundak kanan, artinya wanita tersebut masih gadis, belum memiliki pasangan. Bila simpul di dada depan, itu menunjukkan ia telah berumah tangga. Simpul di belakang leher biasanya dipakai oleh perempuan yang sedang hamil, sedangkan simpul di sisi kiri melambangkan status janda.

Sedangkan bagi laki-laki, aturan tidak serumit wanita, namun tetap ada arti dalam cara mereka mengenakan sarung misalnya cara mengikat atau menyelipkannya yang disebut “di krobongan” sebagai bentuk tradisi dan penghormatan terhadap adat.

Selain simbolisme status, sarung menjadi pelindung penting terhadap cuaca ekstrem di pegunungan. Suhu bisa sangat rendah; angin dan kabut menjadikan sarung bagian vital dari keseharian, terutama di malam atau saat cuaca ekstrim.

Namun seiring waktu, makna-makna tersebut mulai luntur di kalangan generasi muda. Banyak yang sekarang lebih memilih pakaian modern yang dianggap praktis, dan tak sedikit yang tak paham arti dari simpul sarung mereka. Sarung kini lebih sering digunakan dalam upacara adat atau momen khusus daripada sebagai pakaian harian.

Meski demikian, budaya penggunaan sarung tetap dijaga oleh para tetua dan masyarakat yang menghargai warisan budaya Tengger. Bagi mereka, sarung bukan hanya kain penutup tubuh, tapi juga simbol etika, penghormatan, dan ikatan sosial yang menjaga harmoni dalam masyarakat. Pemakaian sarung dengan simpul yang tepat, menurut kepercayaan Tengger, bisa mencegah salah paham antar sesama dan memperkuat rasa saling menghormati.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU