Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 03 JULI 2025 • 08:22 WIB

Malang Djadoel 2025: Nostalgia Tempo Dulu yang Sekaligus Menggerakkan UMKM Kota Malang

Malang Djadoel 2025: Nostalgia Tempo Dulu yang Sekaligus Menggerakkan UMKM Kota MalangPintu Masuk Event Malang Djadoel 2025 di Kawasan Taman Krida Budaya, Malang. (instagram/@malangdjadoel)

MALANG - Suasana ala masa lampau kembali membanjiri Kota Malang lewat gelaran “Malang Djadoel 2025”. Festival yang berlangsung 30 Juni–6 Juli 2025 itu diinisiasi Forum Malang Jurnalis (MaJu) bersama Pemkot Malang, Dewan Kesenian Malang, Pasebar, komunitas pecinta keris, dan sejumlah organisasi lokal lainnya. Digelar bertepatan dengan Hari Bhayangkara dan HUT Kota Malang, acara ini sengaja dirancang untuk “menyulut kenangan” sambil memperkenalkan kembali ragam budaya kepada generasi muda.

Pameran Antik & Kuliner Tradisional

Di area utama, pengunjung dapat menjumpai pameran benda bersejarah—dari keris, lampu petromaks, hingga memorabilia kolonial—yang menghadirkan nuansa pasar tempo dulu. Sisi kulinernya tak kalah ramai: 25 pelaku UMKM kuliner menyiapkan sajian klasik khas Malang, mulai rawon buntut hingga jenang jagung, sebagai ajang unjuk gigi sekaligus promosi produk rumahan ke pasar yang lebih luas. Meski persiapan terhitung singkat, panitia menargetkan jumlah UMKM akan terus bertambah di edisi berikutnya.

Baca juga: Jelajahi Masa Lalu Lewat Lensa Kamera: Sensasi Berfoto dengan Baju Khas Malangan di Maltedoe, Kayutangan Heritage

Atraksi Seni Tradisi

Panggung kesenian diisi barongan, bantengan, jaranan, sampai reog. Derap kendang dan irama gamelan menjadi magnet tersendiri, terutama bagi pengunjung muda yang jarang bersentuhan langsung dengan seni tradisi. Selain atraksi, panitia menyelipkan sesi edukasi singkat tentang asal‐usul setiap kesenian sehingga penonton “pulang” dengan cerita baru tentang Malang.

Dukungan Lintas Elemen

Antusiasme masyarakat disambut dukungan berbagai pihak, mulai Kapolres Malang AKBP Putu Kholis Aryana hingga anggota legislatif kota. Penggagas acara HM Ikhram akrab disapa Abah Gatot—menyebut kolaborasi ini sebagai modal utama agar festival tidak berhenti sebagai nostalgia semata, tetapi berkembang menjadi gerakan kultural berkelanjutan yang juga menggerakkan ekonomi kreatif.

Mimpi Menjadi Agenda Tahunan

Panitia berambisi menjadikan Malang Jadoel agenda rutin. Selain mengeksplor masa kolonial dan kemerdekaan, edisi mendatang diharap menelusuri jejak Kerajaan Singosari hingga Kanjuruhan, sehingga sejarah Malang tampil lebih utuh di mata publik. Dengan begitu, warga—terutama generasi Z—dapat memahami bahwa identitas Aremania lahir di atas fondasi sejarah panjang dan kaya nilai.

Singkatnya, Malang Jadoel 2025 tak sekadar “pentas masa lalu”. Festival ini menjadi bukti bahwa warisan budaya bisa dikemas menarik, menumbuhkan rasa bangga, dan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi UMKM lokal.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Malang Djadoel 2025: Nostalgia Tempo Dulu yang Sekaligus Menggerakkan UMKM Kota Malang

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!