Malang – Di tengah padatnya aktivitas perkotaan, Kota Malang menyimpan permata budaya yang tak banyak diketahui orang: Kampung Arab, atau dikenal juga sebagai Embong Arab. Berlokasi di sekitar Jalan Syarif Al-Qodri hingga Jalan Kapten Piere Tendean, kawasan ini menyimpan jejak panjang sejarah imigran asal Hadramaut, Yaman, yang telah menjadi bagian penting dari denyut nadi kota sejak masa kolonial.
Kampung ini bukan sekadar permukiman biasa. Di balik rumah-rumah tua berarsitektur Timur Tengah, tersembunyi cerita-cerita tentang ketangguhan komunitas Arab yang berbaur dengan masyarakat lokal, membangun harmoni sosial lewat perdagangan, pendidikan, hingga kegiatan keagamaan.
Baca juga: Jejak Sang Panglima: Menelusuri Napak Tilas Jenderal Sudirman di Museum Brawijaya Malang
Warisan Sejarah yang Hidup
Permukiman Kampung Arab mulai terbentuk sejak abad ke-19, saat gelombang imigran Arab datang ke Hindia Belanda. Di Malang, mereka memilih menetap di pusat kota dan membentuk komunitas yang hingga kini masih aktif. Tak sulit menemukan masjid-masjid tua, madrasah, dan rumah-rumah berciri khas Hadramaut berdampingan dengan bangunan bergaya kolonial—semua menjadi saksi bisu lintas generasi yang hidup berdampingan dengan damai.
Salah satu tokoh masyarakat di kawasan ini, Ustaz Hasan, menyebut bahwa Kampung Arab adalah contoh akulturasi yang berjalan alami. “Kami hidup berdampingan dengan warga Jawa sejak dulu. Bahasa, makanan, hingga tradisi kami saling memengaruhi, saling melengkapi,” ujarnya.
Hingga kini, Kampung Arab masih menjadi salah satu pusat perdagangan yang cukup aktif. Di sepanjang jalan Syarif Al-Qodri, deretan toko menjajakan perlengkapan ibadah, parfum khas Timur Tengah, kurma, hingga oleh-oleh haji dan umrah. Tak hanya itu, kuliner khas Arab pun turut memperkaya keragaman rasa di Malang—mulai dari nasi kebuli, roti maryam, hingga samosa bisa dijumpai dengan mudah.
Banyak wisatawan dan warga lokal yang sengaja datang hanya untuk mencicipi cita rasa khas yang sulit ditemukan di tempat lain. Tak sedikit pula pelaku usaha kuliner yang berkembang dan membuka cabang di luar kawasan ini, menunjukkan bahwa Kampung Arab tak hanya mempertahankan warisan, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru.
Potensi Wisata Heritage
Kawasan ini memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya. Beberapa komunitas lokal seperti Indonesia Colonial Heritage dan Jelajah Malang telah mulai menjadikan Kampung Arab sebagai titik utama tur jalan kaki bertema heritage. Tur-tur tersebut membawa wisatawan menyusuri gang-gang sempit yang menyimpan cerita, menelusuri arsitektur bangunan tua, serta mengenalkan budaya Arab lokal yang telah melebur menjadi bagian dari identitas Malang.
Namun sayangnya, belum banyak sentuhan kebijakan pemerintah yang benar-benar serius menjadikan kawasan ini sebagai objek wisata unggulan. Padahal, dengan pengelolaan yang tepat, Kampung Arab bisa menjadi ikon toleransi dan keberagaman yang layak dibanggakan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Online