Minggu, 03 MEI 2026 • 14:24 WIB

Horror Urban di Malang. Ketika Rasa Takut Menjadi Karya Koleksi

Author

Toys Horror Urban (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)

Malang - Pameran art toys bertajuk Horror Urban yang digagas komunitas Lidos Malang akhirnya hadir sebagai kelanjutan dari gaung POP ANGKER yang lebih dulu diperkenalkan ke publik. Jika pra event membuka rasa penasaran, pameran ini menjawabnya dengan visual yang konkret, karakter yang berani, dan tafsir baru atas cerita-cerita yang selama ini hanya hidup di kepala banyak orang.

Ruang pamer dipenuhi figur-figur yang terasa akrab, tetapi tetap menyisakan keganjilan. Inilah kekuatan utama konsep yang diangkat. Horror tidak lagi berdiri sebagai sesuatu yang jauh dan menakutkan, tetapi justru mendekat, hadir dalam bentuk mainan yang bisa dinikmati secara visual. Pengunjung tidak hanya melihat, tetapi juga membaca ulang pengalaman personal tentang rasa takut yang pernah mereka kenal.

Komunitas Lidos Malang memanfaatkan medium art toys sebagai bahasa. Mereka mengubah sesuatu yang tak kasatmata menjadi objek yang nyata. Ketakutan tidak dihindari, tetapi diproses menjadi karya. Hasilnya terasa berlapis. Ada karakter yang tampak menyeramkan, tetapi sekaligus lucu. Ada bentuk yang sederhana, tetapi menyimpan cerita yang kompleks.

Tema Horror Urban sendiri berangkat dari realitas Kota Malang yang kaya dengan cerita misteri. Kota ini menyimpan banyak kisah yang beredar dari mulut ke mulut. Gang sempit, bangunan lama, hingga sudut kampus sering menjadi latar cerita yang sulit dijelaskan secara logika. Cerita-cerita ini tidak pernah benar-benar hilang. Mereka berubah, menyesuaikan zaman, lalu hidup kembali dalam bentuk baru.

Komunitas Lidos Malang (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)

Sebanyak tujuh belas toys maker terlibat dalam pameran ini. Mereka tidak sekadar membuat figur hantu. Mereka membangun karakter dengan pendekatan yang lebih personal dan interpretatif. Ada yang menghadirkan sosok dengan sentuhan humor. Ada yang menyisipkan kritik terhadap budaya konsumsi horor saat ini. Ada juga yang membawa nuansa nostalgia dari cerita masa kecil yang dulu terasa nyata.

Di titik ini, pameran Horror Urban tidak hanya bicara soal estetika. Ia juga menyentuh cara masyarakat memandang horor hari ini. Sosok yang dulu dihindari kini justru dicari. Karakter yang dulu menakutkan kini menjadi objek koleksi. Fenomena ini menunjukkan perubahan cara kita berinteraksi dengan rasa takut. Bukan dihilangkan, tetapi dijinakkan dan diolah.

Kata “pop” dalam POP ANGKER terasa relevan. Horor masuk ke ranah populer. Ia menjadi bagian dari gaya visual dan identitas. Sementara “angker” tetap menyimpan jejak lama yang tidak sepenuhnya hilang. Perpaduan keduanya menciptakan ruang dialog. Apakah kita sudah benar-benar tidak takut, atau hanya mengemas ulang rasa takut agar lebih mudah diterima.

Pameran ini juga bisa dibaca sebagai arsip alternatif tentang Kota Malang. Bukan arsip resmi, tetapi arsip yang dibangun dari ingatan kolektif, rumor, dan imajinasi warganya. Setiap karya menyimpan potongan cerita. Setiap karakter menjadi representasi dari pengalaman yang pernah hidup di ruang kota.

Horror Urban menghadirkan pengalaman yang tidak sepenuhnya nyaman, tetapi justru itu yang membuatnya menarik. Pengunjung diajak merasakan kembali sensasi antara takut dan akrab. Sebuah kondisi yang sulit dijelaskan, tetapi mudah dirasakan. Ketika rasa takut diberi bentuk, ia berubah fungsi. Ia tidak lagi hanya mengancam, tetapi juga mengundang untuk dipahami.


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU