Desain Lampu Taman Kota Malang yang Disorot Netizen (Bhekti Setyowibowo / INDOZONE)
Malang - Penataan kawasan pedestrian di Kota Malang kembali menjadi perbincangan publik. Kali ini, sorotan datang dari keberadaan tiang lampu bergaya vintage yang dipasang di sejumlah ruas jalan. Alih-alih hanya mendapat apresiasi karena mempercantik wajah kota, desain lampu tersebut justru memunculkan perdebatan di media sosial. Banyak warganet menilai tampilannya sangat mirip dengan lampu-lampu ikonik yang menghiasi kawasan Malioboro, Yogyakarta.
Perdebatan bermula dari unggahan foto pedestrian terbaru Kota Malang yang beredar di berbagai platform media sosial. Dalam waktu singkat, kolom komentar dipenuhi beragam pendapat. Sebagian pengguna internet menganggap kemiripan tersebut membuat Malang kehilangan ciri khasnya sebagai kota yang memiliki sejarah dan karakter visual yang kuat. Tidak sedikit pula yang menyebut penataan ruang publik seharusnya mampu menampilkan identitas lokal, bukan menghadirkan kesan menyerupai kota lain.
Di sisi lain, ada pula masyarakat yang menilai polemik tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Menurut mereka, desain lampu bergaya klasik memang banyak digunakan di berbagai kota di Indonesia maupun luar negeri. Model tersebut dinilai mampu menghadirkan suasana yang lebih hangat, elegan, dan ramah bagi pejalan kaki. Bagi kelompok ini, yang terpenting adalah kualitas fasilitas publik serta kenyamanan masyarakat saat memanfaatkannya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa desain ruang publik kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai proyek infrastruktur. Masyarakat semakin kritis terhadap setiap elemen visual yang dibangun pemerintah. Mulai dari bentuk trotoar, bangku taman, papan penunjuk jalan, hingga tiang lampu, semuanya dianggap sebagai bagian dari identitas sebuah kota.
Malang sendiri dikenal sebagai kota yang memiliki sejarah panjang sejak masa kolonial Belanda. Banyak bangunan cagar budaya, kawasan heritage, hingga tata kota lama yang masih bertahan dan menjadi daya tarik wisata. Karena itu, sebagian warga berharap setiap pembangunan baru tetap mengacu pada karakter khas Kota Malang agar tidak kehilangan keunikan yang telah terbentuk selama puluhan tahun.
Di era media sosial, sebuah desain kota dapat dengan cepat menjadi bahan diskusi nasional. Foto-foto yang diunggah masyarakat mampu membentuk opini publik hanya dalam hitungan jam. Kondisi ini membuat setiap keputusan terkait wajah kota semakin mendapat perhatian luas. Tidak hanya dari warga setempat, tetapi juga wisatawan dan masyarakat dari berbagai daerah.
Terlepas dari pro dan kontra yang berkembang, polemik mengenai tiang lampu vintage ini menjadi pengingat bahwa pembangunan kota bukan hanya soal menghadirkan fasilitas yang indah. Masyarakat juga berharap setiap elemen yang dibangun mampu mencerminkan karakter daerahnya sendiri. Identitas visual sebuah kota menjadi aset penting yang membedakannya dari kota lain sekaligus memperkuat daya tarik di mata pengunjung.
Pada akhirnya, perdebatan mengenai tiang lampu vintage di pedestrian Kota Malang bukan semata-mata membahas bentuk sebuah lampu. Diskusi ini berkembang menjadi refleksi tentang bagaimana sebuah kota ingin dikenali oleh masyarakat. Apakah cukup mengikuti tren desain yang telah populer di tempat lain, atau justru menciptakan karakter visual yang lahir dari sejarah, budaya, dan kekhasan Malang itu sendiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung