Malang - Di tengah riuh kawasan Kayutangan, Kota Malang, berdiri sebuah bangunan tua yang perlahan dimakan usia. Letaknya tersembunyi di sepanjang aliran Sungai Brantas. Dindingnya kusam. Catnya terkelupas. Sebagian atap mulai rapuh. Namun dari detail arsitekturnya, bangunan itu masih menyimpan jejak kemewahan masa lalu yang sulit disangkal.
Bangunan bergaya kolonial tersebut diperkirakan dibangun pada era 1920-an, ketika Malang berkembang sebagai kota peristirahatan favorit masyarakat Eropa. Udara sejuk, tata kota yang tertata, serta lanskap pegunungan menjadikan kawasan ini dipenuhi vila-vila elite milik pejabat dan saudagar Belanda.
Vila tua di tepian Brantas itu dulunya dikenal sebagai tempat tinggal mewah. Jendelanya besar dengan ventilasi tinggi khas arsitektur tropis kolonial. Pilar-pilar kokoh menopang bangunan utama yang menghadap langsung ke aliran sungai. Pada zamannya, lokasi tersebut dianggap eksklusif karena menawarkan suasana tenang jauh dari pusat keramaian.
Namun sejarah tidak selalu berjalan indah. Saat pendudukan Jepang masuk ke Indonesia pada awal 1940-an, banyak bangunan kolonial diambil alih untuk kepentingan militer maupun administrasi. Vila tersebut pun mengalami perubahan fungsi. Ruang-ruang yang sebelumnya menjadi tempat bersantai keluarga elite berubah menjadi bangunan utilitas yang dipakai selama masa perang.
Setelah Indonesia merdeka, bangunan itu sempat berpindah tangan beberapa kali. Sayangnya, minimnya perawatan membuat kondisinya terus menurun. Perlahan bangunan yang pernah menjadi simbol kemewahan itu berubah menjadi bangunan terbengkalai yang nyaris terlupakan.
Kini suasana di sekitarnya terasa kontras. Di tengah geliat modernisasi Kayutangan yang dipenuhi kafe, pertokoan, hingga wisata heritage, bangunan tua itu berdiri sunyi dengan wajah yang mulai rapuh. Temboknya dipenuhi lumut. Beberapa bagian kayu tampak lapuk dimakan cuaca. Cat yang mengelupas justru memperlihatkan lapisan sejarah yang tertinggal di baliknya.
Banyak warga yang melintas mengaku penasaran dengan bangunan tersebut. Sebagian bahkan percaya tempat itu menyimpan cerita mistis karena tampilannya yang gelap dan kosong sejak lama. Namun bagi pecinta sejarah, bangunan seperti ini justru menjadi pengingat penting tentang perjalanan Kota Malang dari masa kolonial, pendudukan Jepang, hingga perkembangan kota modern hari ini.
Malang memang memiliki banyak bangunan heritage yang masih bertahan hingga sekarang. Sayangnya, tidak semuanya mendapatkan perhatian serius. Beberapa bangunan bernilai sejarah akhirnya rusak perlahan karena persoalan kepemilikan, biaya restorasi, hingga belum adanya pemanfaatan yang jelas.
Padahal, jika dirawat dengan baik, bangunan semacam ini memiliki potensi besar sebagai ruang kreatif, galeri budaya, museum kecil, atau destinasi wisata sejarah yang mampu menghidupkan kembali kawasan sekitar. Banyak kota di dunia berhasil mengubah bangunan tua menjadi ruang publik bernilai ekonomi tanpa menghilangkan identitas sejarahnya.
Vila tua di sepanjang Sungai Brantas itu hari ini mungkin memang tampak usang. Namun di balik cat yang terkelupas dan dinding yang retak, bangunan tersebut masih menyimpan cerita panjang tentang masa lalu Kota Malang. Sebuah saksi bisu yang perlahan memudar di tengah cepatnya perubahan zaman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung