Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 19 MEI 2026 • 00:56 WIB

Sampur Batik, Ruang Tumbuh Anak Difabel di Kota Malang

Sampur Batik, Ruang Tumbuh Anak Difabel di Kota MalangMenujukkan Karya Hasil Pelatihan Membatik Sampur (Bhekti Setyowibowo / INDOZONE)

News - Udara pagi di Kota Malang masih terasa sejuk ketika puluhan orang berdiri khidmat di Sanggar Budaya Anak Nareswari, Jalan Kyai Pasreh Jaya Nomor 29, Bumiayu, Kedungkandang, Sabtu pagi, 16 Mei 2026. Tepat sekitar pukul 08.00 WIB, lagu “Indonesia Raya” berkumandang dan dinyanyikan bersama dengan penuh penghayatan. Suasana hangat dan haru perlahan memenuhi ruangan, menegaskan bahwa ruang budaya ini hadir untuk semua anak bangsa tanpa memandang keterbatasan.

Hari itu, Griya Kriya Topeng Ramah Difabel resmi menggelar pelatihan membatik sampur yang diikuti 15 anak difabel bersama para pendamping mereka. Kegiatan ini menjadi bagian dari Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025 dalam kategori Dukungan Institusional bagi Lembaga Kebudayaan, dengan dukungan dari Kementerian Kebudayaan, LPDP, dan Dana Indonesiana. Program tersebut menjadi bentuk nyata dukungan negara terhadap ruang budaya inklusif agar terus tumbuh dan berdaya.

Sebelum pelatihan dimulai, suasana ruangan sempat memukau oleh penampilan Ananda Zaki, penari difabel yang membawakan Tari Topeng dengan penuh penghayatan. Gerakannya yang luwes berpadu dengan iringan musik tradisional yang dinamis berhasil menyedot perhatian seluruh peserta. Penampilan itu bukan sekadar pembuka acara, melainkan simbol bahwa seni tradisi mampu merangkul siapa saja tanpa batas.

Ketua Sanggar Budaya Anak Nareswari, Ndaru Lazarus atau yang akrab disapa Dimas, kemudian menyampaikan sambutan. Ia menjelaskan bahwa kegiatan bertema “Harmonisasi Griya Kriya Topeng Ramah Difabel & Pasar Seni Bareng” bertujuan membangun ekosistem seni yang benar-benar inklusif dan mudah diakses semua kalangan.

Menurutnya, Griya Kriya dan Pasebar atau Pasar Seni Bareng selama ini menjadi ruang belajar berkelanjutan bagi anak-anak difabel untuk mengembangkan 15 jenis keterampilan seni dan kriya. Pelatihan membatik sampur menjadi langkah awal dari perjalanan kreatif yang akan terus berlanjut hingga beberapa bulan ke depan.

Suasana pelatihan semakin menarik dengan kehadiran 47 mahasiswa Program Studi Fashion Design & Business Universitas Ciputra Surabaya yang didampingi dosen mereka, Jane Rine Teowarang. Para mahasiswa yang sehari-hari mempelajari dunia mode modern dan bisnis fesyen tampak membaur hangat bersama peserta difabel di ruang kriya tradisional tersebut.

Interaksi yang tercipta terasa akrab dan penuh makna. Mahasiswa belajar tentang empati, kesabaran, serta nilai filosofis dari karya buatan tangan. Di sisi lain, anak-anak difabel merasakan kebanggaan karena karya mereka mendapat perhatian dan apresiasi dari calon desainer masa depan. Kehadiran Universitas Ciputra juga membuka peluang baru bahwa sampur batik hasil karya tangan para peserta berpotensi berkembang menjadi produk fesyen bernilai ekonomi tinggi.

Memasuki sesi inti, instruktur batik Yuharsita dari Bengkel Batik bersama rekannya, Roro, memandu pelatihan dengan pendekatan yang hangat dan komunikatif. Sebelum praktik dimulai, Yuharsita mengajak peserta memahami makna batik melalui cerita sederhana.

Ia menjelaskan bahwa batik bukan sekadar kain bergambar, melainkan media untuk menyampaikan doa, harapan, dan cerita kehidupan melalui goresan malam panas. Peserta dikenalkan pada berbagai motif Nusantara seperti Megamendung khas Cirebon, Sekarjagad dari Yogyakarta, hingga Batik Tiga Negeri yang memadukan unsur budaya Pekalongan, Solo, dan Lasem.

Peserta juga belajar istilah dasar dalam membatik, seperti glowong untuk garis luar motif dan isen-isen sebagai detail pengisi pola. Untuk sampur yang dibuat hari itu, bagian tengah kain dihiasi motif truntum yang dikenal melambangkan kasih sayang dan ketulusan.

Saat sesi praktik dimulai, ruangan langsung dipenuhi semangat. Kelima belas peserta mulai memegang canting dan perlahan menggoreskan malam panas di atas kain sampur putih. Proses tersebut tidak hanya melatih kreativitas, tetapi juga menjadi terapi motorik yang menyenangkan bagi mereka.

Yuharsita, Roro, para pendamping, serta mahasiswa Universitas Ciputra mendampingi setiap peserta dengan sabar. Ada tangan yang dibantu untuk membentuk garis lengkung. Ada pula gelak tawa ketika tetesan malam keluar dari pola yang direncanakan. Namun justru dari ketidaksempurnaan itulah lahir karakter unik pada setiap lembar sampur.

Tidak ada satu pun hasil batik yang benar-benar sama. Setiap goresan memiliki ciri khas tersendiri, sebagaimana setiap anak memiliki keistimewaan yang berbeda.

Bagi Yuharsita, membatik tidak berhenti pada nilai estetika semata. Ia melihat keterampilan ini sebagai peluang menuju kemandirian ekonomi bagi para peserta difabel.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Sampur Batik, Ruang Tumbuh Anak Difabel di Kota Malang

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!