Minggu, 03 MEI 2026 • 08:45 WIB

May Day 2026 di Malang, Suara Buruh Menggema dari Jalanan hingga Panggung Seni

Author

Masa Aksi Damai Hari Buruh (Foto Istimewa)

Malang - Ribuan massa memadati jalan utama Kota Malang pada peringatan Hari Buruh Internasional, Jumat, 1 Mei 2026. Aksi ini tidak datang dalam satu gelombang. Sejak pagi, massa dari Serikat Pekerja Buruh Indonesia sudah lebih dulu turun ke jalan. Siang harinya, gelombang kedua yang digerakkan Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu melanjutkan tekanan dengan jumlah massa yang terus bertambah.

Sekitar pukul 14.00 WIB, arus longmarch mulai bergerak dari kawasan Kayutangan. Massa berjalan menuju Gedung DPRD Kota Malang sebagai titik pusat aksi. Sepanjang perjalanan, jalanan dipenuhi bendera serikat, spanduk besar, dan poster dengan pesan yang tegas. Kalimat seperti “Turunkan Harga! Naikkan Upah!” dan “Buruh dan Rakyat Bersatu Lawan Imperialisme & Militerisme” menjadi penanda arah tuntutan yang dibawa.

Koordinator lapangan ARBB, Zaki, menegaskan bahwa aksi ini tidak berdiri pada satu isu saja. Aliansi ini membawa 14 poin tuntutan yang mencakup isu buruh hingga hak asasi manusia. Fokus utama tetap pada penolakan Undang-Undang Cipta Kerja yang dinilai belum berpihak pada pekerja.

Menurut Zaki, persoalan mendasar yang ingin disuarakan adalah soal keadilan dan kesetaraan. Tuntutan yang dibawa mencakup sistem upah layak nasional, penghapusan outsourcing, serta perlindungan hak reproduksi perempuan. Isu seperti cuti haid, hamil, dan melahirkan menjadi bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari kondisi kerja yang manusiawi.

Tidak berhenti di situ, aliansi ini juga mengangkat perlindungan bagi pekerja disabilitas, serta akses pendidikan dan layanan kesehatan gratis bagi masyarakat. Dalam skala yang lebih luas, mereka turut mendorong pengusutan pelanggaran HAM, pembebasan tahanan politik, hingga penghentian operasi militer di Papua.

Aksi ini juga memperlihatkan wajah gerakan yang lebih cair. Tidak hanya orasi dari atas mobil komando, massa menghadirkan pertunjukan musik dan seni jalanan. Format ini dipilih untuk menjaga energi aksi tetap hidup sekaligus membuka ruang ekspresi yang lebih luas. Jalanan berubah menjadi ruang kolektif, tempat pesan disampaikan dengan cara yang lebih dekat dengan publik.

ARBB sendiri merupakan aliansi baru yang berisi berbagai elemen. Mahasiswa, buruh, dan masyarakat sipil bergabung dalam satu barisan. Meski belum memiliki peta jalan jangka pendek yang detail, komitmen untuk terus mengawal tuntutan menjadi sikap yang ditegaskan di lapangan.

Di tengah euforia aksi, Zaki juga menyinggung dinamika gerakan buruh secara nasional. Ia melihat adanya pergeseran arah ketika sebagian aktivis masuk ke dalam lingkar kekuasaan. Baginya, hal itu justru melemahkan posisi gerakan yang seharusnya tetap kritis.

Sepanjang aksi berlangsung, aparat Satpol PP dan kepolisian tampak berjaga di sejumlah titik. Pengamanan dilakukan untuk memastikan kegiatan berjalan tertib. Hingga sore hari, situasi tetap kondusif. Massa menyampaikan aspirasi secara damai, menegaskan bahwa jalanan masih menjadi ruang penting bagi buruh untuk menyuarakan haknya.

May Day di Malang tahun ini tidak hanya soal jumlah massa. Aksi ini menunjukkan bahwa isu buruh terus berkembang dan terhubung dengan persoalan yang lebih luas. Dari tuntutan upah hingga hak asasi manusia, suara yang muncul dari jalanan menjadi cermin bahwa perjuangan belum selesai.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU