Minggu, 03 MEI 2026 • 08:47 WIB

Saat Jalanan Jadi Panggung. Musik Keras Warnai May Day di Balai Kota Malang

Author

Musik Gigs Malantun Di Depan Balai Kota Malang (Foto Istimewa)

Malang - Peringatan Hari Buruh Internasional di Balai Kota Malang pada Jumat, 1 Mei 2026, tidak hanya diisi orasi dan spanduk tuntutan. Jalanan berubah menjadi panggung terbuka. Dentuman musik keras dari skena lokal ikut menyatu dengan suara massa. Aksi terasa lebih hidup, lebih ekspresif, dan lebih dekat dengan generasi muda.

Sejumlah kolektif musik dari skena hardcore dan punk tampil langsung di tengah demonstrasi. Nama-nama seperti Hektar, Glich, DC Threat, dan The Reackless memainkan lagu mereka tanpa jarak dengan massa. Tidak ada panggung tinggi. Tidak ada batas pembatas. Semua melebur dalam satu ruang yang sama.

Salah satu performer, Ciwen Ilusi, menyebut aksi ini sebagai upaya merebut kembali ruang publik. Ia melihat ruang publik hari ini semakin sulit diakses. Banyak batas. Banyak aturan. Ia dan kolektifnya memilih jalan berbeda. Mereka membawa gigs ke jalan.

Menurutnya, kebebasan berekspresi saat ini sering terbentur prosedur. Termasuk saat ingin menggelar acara musik. Perizinan dianggap rumit dan membatasi ruang gerak. Karena itu, jalanan dipilih sebagai medium alternatif. Tempat di mana suara bisa disampaikan tanpa sekat.

Aksi ini menjadi pengalaman pertama bagi mereka tampil di tengah demonstrasi. Namun para musisi yang terlibat bukan pemain baru. Mereka bagian dari jaringan kolektif independen yang selama ini aktif di ruang alternatif. Mereka terbiasa bergerak tanpa sponsor dan tanpa panggung besar.

Respons massa terlihat kuat. Musik keras tidak dianggap gangguan. Justru menjadi energi tambahan. Massa buruh dan mahasiswa terlihat menikmati. Mereka ikut bergerak, berteriak, dan merespons setiap lagu yang dimainkan. May Day terasa lebih cair dan tidak kaku.

Seluruh peralatan disiapkan secara swadaya. Tidak ada sponsor. Tidak ada dukungan brand. Semua dikumpulkan dari berbagai kolektif. Sistem patungan jadi solusi. Semangat gotong royong terasa nyata di lapangan.

Persiapan aksi ini juga tidak panjang. Hanya sekitar satu pekan. Namun konsepnya jelas. Gigs di jalan. Musik sebagai medium aspirasi. Musik sebagai bahasa yang mudah diterima.

Koordinator lapangan Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu, Zaki, menyebut konsep ini terinspirasi dari aksi serupa di Jakarta. Ia melihat pentingnya variasi dalam menyampaikan aspirasi. Orasi tetap penting. Namun lagu bisa menjangkau emosi lebih cepat. Lagu membuat pesan lebih mudah diingat.

Aksi ini menunjukkan satu hal. Demonstrasi tidak harus selalu kaku. Jalanan bisa menjadi ruang ekspresi yang lebih luas. Musik, massa, dan pesan sosial bisa berjalan bersama. Di Malang, May Day tahun ini tidak hanya terdengar. Ia juga terasa.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU