Sukarni Supeltas Peremuan (Foto Istimewa)
Malang - Di tengah padatnya arus kendaraan di Kota Malang, sosok Sukarni tampil berbeda. Ia berdiri di persimpangan Jalan Sukarno Hatta sejak pagi hingga siang hari. Tugasnya jelas. Mengatur lalu lintas sebagai sukarelawan pengatur lalu lintas atau supeltas. Namun ada satu hal yang membuatnya mencuri perhatian. Ia mengenakan kebaya.
Bagi Sukarni, Hari Kartini bukan sekadar peringatan. Ia memilih merayakannya lewat tindakan nyata. Setiap tahun, ia sengaja mengenakan kebaya saat bertugas. Kebaya itu bukan hasil sewa. Ia menjahitnya sendiri. “Saya memang penjahit. Kebaya ini saya buat sendiri. Setiap Hari Kartini saya pakai saat jaga,” ujarnya. Di tengah panas jalanan dan hiruk pikuk kendaraan, Sukarni tetap sigap. Ia membantu pejalan kaki menyeberang. Ia mengatur kendaraan yang keluar masuk simpang jalan. Gerakannya tegas dan terlatih.
Pilihan mengenakan kebaya di jalan bukan tanpa alasan. Ia ingin menunjukkan bahwa perempuan bisa berperan di ruang publik tanpa meninggalkan identitasnya. Kebaya menjadi simbol. Bukan hanya tradisi, tetapi juga keberanian. Aksi Sukarni ini menarik perhatian pengguna jalan. Banyak pengendara melambat. Beberapa bahkan memberikan uang atau makanan sebagai bentuk apresiasi. Respons ini muncul secara spontan.
Seorang warga yang melintas menyebut apa yang dilakukan Sukarni unik. Ia melihat ada pesan kuat di balik penampilan sederhana itu. Perempuan bisa tetap berkarya di mana saja, bahkan di tengah lalu lintas kota. Fenomena supeltas sendiri sudah lama menjadi bagian dari kehidupan jalanan di berbagai kota di Indonesia. Mereka hadir membantu mengurai kemacetan di titik-titik tertentu. Meski tidak resmi, peran mereka sering dirasakan langsung oleh masyarakat.
Di Malang, keberadaan supeltas seperti Sukarni menjadi contoh nyata kontribusi warga. Data Dinas Perhubungan di beberapa kota besar menunjukkan bahwa simpang tanpa petugas sering menjadi titik rawan macet. Kehadiran relawan seperti Sukarni membantu memperlancar arus kendaraan, terutama di jam sibuk. Sukarni tidak berbicara soal emansipasi dalam istilah besar. Ia tidak berdiri di panggung. Ia tidak berorasi. Ia memilih jalan sederhana. Berdiri di persimpangan. Mengenakan kebaya. Bekerja dengan konsisten.
Apa yang ia lakukan menjadi pengingat. Semangat Kartini bisa hadir dalam bentuk yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tidak harus besar. Tidak harus rumit. Cukup nyata dan berdampak. Di antara klakson kendaraan dan debu jalanan, Sukarni menunjukkan satu hal. Perempuan bisa kuat, mandiri, dan tetap membawa identitasnya ke ruang publik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung