Tari Topeng Malang (Antara News)
Malang - Peringatan Hari Tari Sedunia di Kota Malang berubah menjadi ruang ekspresi yang hidup dan penuh energi. Gedung Dewan Kesenian Malang dipadati ratusan penari dari berbagai sanggar yang hadir membawa semangat yang sama. Mereka tidak sekadar tampil, tetapi merayakan gerak sebagai bahasa yang menyatukan.
Sebanyak 150 penari dari 33 sanggar tampil dalam satu panggung. Total ada 44 pertunjukan yang disajikan dengan ragam gaya. Tari Remo, Topeng, Gambyong, hingga Reog Ponorogo tampil berdampingan dengan hip hop dan line dance. Perpaduan ini menunjukkan bahwa tari terus berkembang tanpa meninggalkan akar tradisi.
Setiap gerakan yang ditampilkan membawa makna. Ketua Dewan Kesenian Malang menegaskan bahwa panggung ini tidak hanya soal estetika. Ada pesan damai yang ingin disampaikan. Gerak yang selaras menjadi simbol harapan di tengah situasi dunia yang penuh ketegangan. Tari hadir sebagai ruang refleksi yang menenangkan.
Tahun ini durasi acara dibuat lebih singkat. Penyesuaian dilakukan karena bertepatan dengan hari aktif sekolah dan kerja. Banyak sanggar juga sedang mempersiapkan ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional. Meski waktu terbatas, antusiasme tidak berkurang. Penonton tetap memenuhi ruang pertunjukan dan memberi apresiasi penuh.
Dukungan pemerintah terlihat nyata. Wali Kota Malang hadir dan memberikan apresiasi langsung. Komitmen untuk menjaga budaya ditegaskan melalui dukungan terhadap ruang ekspresi seni. Pemerintah membuka peluang agar pelaku seni terus berkarya dan tampil di tengah masyarakat.
Kehadiran generasi muda menjadi sorotan. Anak-anak hingga remaja tampil percaya diri di atas panggung. Mereka menunjukkan bahwa tari bukan milik generasi lama saja. Tari telah menjadi bagian dari gaya hidup baru. Regenerasi berjalan dan memberi harapan pada masa depan seni pertunjukan.
Dampak sosial dari kegiatan ini juga terasa. Menari menjadi alternatif aktivitas yang sehat bagi anak muda. Mereka tidak hanya terpaku pada layar gawai. Latihan bersama dan tampil di panggung membangun interaksi sosial yang lebih kuat. Ada ruang untuk bertemu, berproses, dan tumbuh bersama.
Keberagaman tari dari berbagai daerah memperkaya panggung. Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Bali hadir dengan karakter masing-masing. Setiap gerak berbeda, tetapi tetap menyatu dalam satu harmoni. Inilah kekuatan tari sebagai bahasa universal yang mampu menembus batas.
Hari Tari Sedunia di Malang bukan sekadar seremoni. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa seni tetap hidup dan relevan. Di tengah dinamika kehidupan, tari hadir sebagai oase. Ruang yang menenangkan, menyatukan, dan memberi harapan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung