Windaningsih Dosen Digital Communications Binus Malang (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)
Opini - Di sela kesibukan studi S3, Windaningsih melihat Hari Buruh 2026 sebagai momen penting untuk membaca ulang relasi antara manusia dan sistem digital. Ia menilai pekerja hari ini tidak hanya dituntut produktif, tetapi juga harus paham cara kerja platform yang mereka gunakan. Menurutnya, literasi algoritma menjadi kunci agar pekerja tidak sekadar menjadi objek sistem. Ia juga menekankan pentingnya institusi pendidikan ikut berperan, bukan hanya menyiapkan skill teknis, tetapi juga kesadaran kritis agar pekerja mampu menegosiasikan haknya di tengah ekosistem kerja yang semakin terdigitalisasi.
Hari Buruh 2026 hadir dalam lanskap kerja yang berubah cepat. Dunia kerja tidak lagi hanya soal pabrik, kantor, atau seragam. Kini, banyak pekerja berada di balik layar aplikasi, bekerja untuk sistem yang tidak selalu terlihat, tetapi sangat menentukan.
Fenomena kerja berbasis platform semakin dominan. Ojek online, kurir, freelancer digital, hingga kreator konten menjadi wajah baru buruh masa kini. Mereka bekerja fleksibel, tanpa jam tetap. Namun fleksibilitas itu sering datang bersama ketidakpastian. Pendapatan tidak stabil. Jaminan sosial minim. Relasi kerja menjadi kabur.
Di sisi lain, kecerdasan buatan mulai mengambil peran besar. Banyak pekerjaan administratif, kreatif, bahkan analitis mulai terotomatisasi. Perusahaan mengejar efisiensi. Pekerja dituntut beradaptasi cepat. Skill lama tidak lagi cukup. Reskilling dan upskilling menjadi kebutuhan, bukan pilihan.
Kondisi ini memunculkan paradoks. Teknologi membuka peluang baru. Siapa pun bisa bekerja dari mana saja. Tetapi akses terhadap peluang itu tidak merata. Pekerja dengan literasi digital rendah tertinggal. Kesenjangan semakin terasa.
Isu lain yang menguat di 2026 adalah kesehatan mental pekerja. Tekanan target, sistem rating, dan tuntutan selalu online membuat batas kerja dan hidup semakin tipis. Banyak pekerja merasa lelah, tetapi sulit berhenti. Sistem mendorong produktivitas tanpa henti.
Regulasi sering tertinggal dari realitas. Status pekerja platform masih diperdebatkan. Apakah mereka mitra atau pekerja. Jawaban ini penting karena menyangkut hak dasar seperti asuransi, cuti, dan perlindungan kerja. Beberapa negara mulai merumuskan aturan baru, tetapi implementasinya belum merata.
Hari Buruh tidak lagi hanya soal upah minimum atau jam kerja. Isunya berkembang. Transparansi algoritma, perlindungan data pekerja, hingga hak untuk disconnect mulai dibicarakan. Buruh hari ini berhadapan dengan sistem digital, bukan hanya atasan langsung.
Di Indonesia, dinamika ini juga terasa. Generasi muda masuk ke dunia kerja dengan ekspektasi berbeda. Mereka mencari fleksibilitas, makna kerja, dan keseimbangan hidup. Namun realitas sering tidak sejalan. Banyak yang harus menerima pekerjaan tanpa kepastian demi bertahan.
Refleksi Hari Buruh 2026 mengarah pada satu hal. Sistem kerja perlu mengejar perubahan zaman. Perlindungan pekerja tidak boleh tertinggal dari inovasi teknologi. Jika tidak, kemajuan hanya akan dinikmati sebagian pihak.
Buruh hari ini bukan hanya mereka yang terlihat di jalan atau pabrik. Mereka juga yang bekerja di balik layar, di depan laptop, atau di balik aplikasi. Tantangannya berbeda. Tetapi satu hal tetap sama. Mereka membutuhkan keadilan, kepastian, dan ruang untuk hidup dengan layak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Opini