Sesi Pemutaran Film Inklusi (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)
Batu - Hari kedua penyelenggaraan BAIK Film Fest di Kota Batu menghadirkan momen yang berbeda dari sesi pemutaran pada umumnya. Festival yang dikenal sebagai ruang apresiasi film anak dan keluarga ini membuka sesi khusus bagi anak-anak penyandang tuna rungu dan tuna netra. Ruang gelap bioskop yang biasanya sunyi berubah menjadi ruang yang lebih hidup, lebih ramah, dan lebih terbuka bagi semua.
Dalam sesi tersebut, panitia menghadirkan dua Juru Bahasa Isyarat yang bertugas menerjemahkan dialog dan alur cerita secara langsung untuk anak-anak tuna rungu. Kehadiran mereka bukan sekadar pelengkap, tetapi menjadi jembatan utama agar cerita dalam film bisa diakses secara utuh. Anak-anak yang sebelumnya hanya bisa menebak-nebak adegan, kini dapat memahami emosi, konflik, dan pesan yang disampaikan melalui bahasa visual yang mereka kuasai.
Sementara itu, untuk anak-anak tuna netra, pengalaman menonton dihadirkan melalui pendekatan yang lebih deskriptif. Dengan bantuan perangkat jemala narasi tambahan di sampaikan untuk membantu menggambarkan adegan, ekspresi tokoh, hingga perubahan suasana dalam film. Pendekatan ini memberi akses yang lebih setara, sehingga film tidak lagi menjadi medium yang eksklusif bagi mereka yang bisa melihat dan mendengar secara utuh.
BAIK Film Fest sendiri dirancang sebagai festival film anak dan keluarga berskala nasional hingga internasional, dengan target penonton usia 7 hingga 15 tahun. Festival ini tidak hanya menampilkan film, tetapi juga menggabungkan lokakarya kreatif dan aktivitas berbasis alam. Pendekatan ini memberi ruang bagi anak-anak untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi kreator yang aktif.
Sesi Pemutaran Khusus Inklusi (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)
Pemilihan Kota Batu sebagai lokasi festival bukan tanpa alasan. Kota ini dikenal sebagai destinasi wisata ramah keluarga dan telah diakui sebagai kota ramah anak. Lingkungan yang sejuk, aman, dan dekat dengan alam mendukung konsep festival yang ingin menggabungkan edukasi, hiburan, dan pengalaman eksploratif bagi anak-anak.
Sesi inklusif di hari kedua ini membawa pesan kuat tentang pentingnya akses dalam dunia perfilman anak. Film bukan hanya hiburan, tetapi juga media belajar, media empati, dan media ekspresi. Ketika akses dibuka, maka peluang belajar dan berkembang juga ikut terbuka.
Harapannya, langkah yang dilakukan BAIK Film Fest ini bisa menjadi standar baru bagi penyelenggaraan festival film di Indonesia. Inklusivitas tidak lagi menjadi program tambahan, tetapi menjadi bagian utama dari perancangan acara. Ketika anak-anak dengan berbagai latar belakang dan kondisi dapat menikmati pengalaman yang sama, maka ruang budaya menjadi lebih adil dan bermakna.
Manfaat dari pendekatan ini terasa langsung. Anak-anak penyandang disabilitas mendapatkan pengalaman sosial yang lebih luas. Mereka tidak hanya datang sebagai penonton, tetapi juga sebagai bagian dari komunitas. Interaksi dengan anak-anak lain menciptakan rasa percaya diri dan memperkuat identitas mereka sebagai individu yang setara.
Di sisi lain, anak-anak non-disabilitas juga belajar sesuatu yang penting. Mereka belajar tentang keberagaman, tentang cara berkomunikasi yang berbeda, dan tentang pentingnya saling memahami. Pengalaman ini sulit didapat dari ruang kelas biasa, tetapi bisa hadir secara alami melalui kegiatan seperti festival film.
BAIK Film Fest menunjukkan bahwa festival anak bisa lebih dari sekadar hiburan. Ia bisa menjadi ruang belajar yang inklusif, ruang interaksi sosial yang sehat, dan ruang tumbuh bagi generasi muda. Ketika layar dibuka untuk semua, maka cerita yang lahir juga akan lebih kaya dan lebih manusiawi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung