Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 30 JUNI 2026 • 11:45 WIB

Kebo-keboan Alasmalang, Tradisi Syukur yang Tetap Hidup di Tengah Modernisasi

Kebo-keboan Alasmalang, Tradisi Syukur yang Tetap Hidup di Tengah ModernisasiTradisi Kebo keboan (Foto Istimewa)

Life - Di tengah pesatnya perkembangan zaman, tidak semua tradisi mampu bertahan. Namun, hal itu tidak berlaku bagi masyarakat Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi. Setiap tahun, warga setempat tetap melestarikan ritual Kebo-keboan, sebuah tradisi turun-temurun yang menjadi simbol rasa syukur, penghormatan kepada alam, sekaligus doa agar hasil pertanian selalu melimpah.

Tradisi ini menjadi salah satu warisan budaya agraris yang paling dikenal di Banyuwangi. Bukan sekadar pertunjukan yang menarik perhatian wisatawan, Kebo-keboan memiliki makna spiritual dan sosial yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat.

Prosesi ritual diawali dengan berbagai rangkaian kegiatan adat, seperti kenduri desa dan doa bersama. Setelah itu, warga yang berperan sebagai "kerbau" mulai memasuki arena ritual. Tubuh mereka dilumuri warna hitam menyerupai kulit kerbau, lengkap dengan tanduk buatan serta lonceng kecil yang menghiasi tangan dan kaki. Penampilan tersebut melambangkan hewan yang sejak dahulu menjadi sahabat utama para petani dalam mengolah sawah.

Para peserta kemudian memperagakan berbagai aktivitas layaknya kerbau yang sedang bekerja di sawah. Mereka membajak lahan, berkubang di lumpur, hingga mengelilingi desa dalam prosesi ider bumi. Seluruh rangkaian tersebut menggambarkan siklus kehidupan pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat Alasmalang.

Di balik atraksi yang unik, Kebo-keboan menyimpan filosofi mendalam. Kerbau dipandang sebagai simbol kekuatan, kesabaran, kerja keras, dan kesuburan. Melalui ritual ini, masyarakat memanjatkan doa agar tanah tetap subur, tanaman terhindar dari hama, serta panen berikutnya membawa hasil yang melimpah.

Tradisi ini juga memiliki kaitan dengan sejarah desa. Berdasarkan cerita yang diwariskan secara turun-temurun, ritual Kebo-keboan bermula ketika wilayah tersebut pernah dilanda wabah penyakit dan gagal panen. Seorang leluhur desa kemudian memperoleh petunjuk agar masyarakat menggelar ritual yang melibatkan simbol kerbau sebagai bentuk permohonan keselamatan dan kesejahteraan. Sejak saat itu, tradisi tersebut terus dilaksanakan dan dipercaya membawa keberkahan bagi warga.

Selain menjadi ritual adat, Kebo-keboan juga memperkuat ikatan sosial masyarakat. Persiapan hingga pelaksanaan dilakukan secara gotong royong. Seluruh warga terlibat sesuai perannya masing-masing, mulai dari menyiapkan perlengkapan, memasak untuk kenduri, hingga menjaga kelancaran jalannya acara. Kebersamaan inilah yang membuat tradisi tersebut tetap bertahan lintas generasi.

Dalam beberapa tahun terakhir, Kebo-keboan juga berkembang sebagai daya tarik wisata budaya Banyuwangi. Ribuan pengunjung datang untuk menyaksikan langsung keunikan ritual yang jarang ditemukan di daerah lain. Meski demikian, masyarakat tetap menjaga nilai-nilai sakral agar tradisi tidak berubah menjadi sekadar tontonan.

Keberhasilan mempertahankan Kebo-keboan menunjukkan bahwa budaya lokal mampu hidup berdampingan dengan perkembangan zaman. Tradisi ini tidak hanya menjadi pengingat tentang pentingnya menghormati alam dan kerja keras para petani, tetapi juga menjadi bukti bahwa identitas budaya dapat terus diwariskan tanpa kehilangan makna aslinya.

Di tengah modernisasi yang terus bergerak, Kebo-keboan Alasmalang menjadi contoh bagaimana sebuah tradisi mampu bertahan karena terus dirawat oleh masyarakatnya. Selama nilai kebersamaan, rasa syukur, dan penghormatan terhadap alam tetap dijaga, ritual ini akan terus menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Banyuwangi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Kebo-keboan Alasmalang, Tradisi Syukur yang Tetap Hidup di Tengah Modernisasi

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!