Malang - Jl. Puncak Borobudur di Kota Malang semakin dikenal sebagai kawasan nongkrong. Deretan kafe baru tumbuh cepat di sepanjang jalan ini. Namun, perkembangan itu menimbulkan masalah serius. Arus kendaraan di kawasan ini makin padat. Kemacetan menjadi rutinitas terutama pada sore hingga malam.
Akar masalahnya terlihat jelas di lapangan. Banyak kafe menyediakan area parkir yang tidak memadai. Pengunjung akhirnya memarkir kendaraan di bahu jalan. Kondisi ini membuat setengah badan jalan terpakai. Sisa ruang yang bisa dilalui kendaraan menjadi sempit. Alhasil, mobil dan motor harus antre panjang untuk bisa bergerak.
Puncak Borobudur sebetulnya hanya memiliki lebar jalan yang terbatas. Ketika kendaraan parkir di sisi jalan, kelancaran arus lalu lintas langsung terhambat. Pengendara sering terjebak dalam antrean hingga belasan menit meskipun jarak tempuh sebenarnya pendek.
Warga sekitar merasakan dampaknya setiap hari. Mereka kesulitan keluar masuk rumah. Aktivitas harian terganggu. Pengemudi ojek online dan pekerja yang melintas di kawasan ini juga mengeluh. Laju kendaraan yang tersendat membuat waktu tempuh membengkak.
Kafe di sepanjang Puncak Borobudur memiliki daya tarik tinggi. Banyak pengunjung datang untuk menikmati suasana kota dari ketinggian. Namun, tingginya minat tidak diimbangi manajemen parkir yang tertata. Banyak pemilik usaha belum menyediakan lahan parkir ideal. Mereka mengandalkan area depan bangunan, yang nyatanya tidak cukup.
Beberapa titik menjadi pusat kemacetan. Area dengan kafe yang paling ramai menjadi bottleneck. Pada jam pulang kerja dan akhir pekan, kondisi makin buruk. Kendaraan saling berebut ruang. Jalan dua arah terasa seperti satu arah.
Solusi sebenarnya tidak rumit. Pengusaha bisa menyediakan lahan parkir terpadu. Bisa membangun kerja sama dengan pemilik lahan sekitar. Pemasangan rambu larangan parkir pada titik rawan dan pengawasan rutin juga bisa membantu arus kendaraan tetap lancar.
Kemacetan di Jl. Puncak Borobudur menjadi contoh bahwa pertumbuhan tempat nongkrong perlu diimbangi pengelolaan ruang publik yang baik. Tanpa penataan, kenyamanan pengguna jalan dan warga sekitar ikut terdampak. Konsistensi pengawasan dapat menjaga kawasan ini tetap hidup, ramai, dan nyaman untuk semua.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung