Sabtu, 25 APRIL 2026 • 19:02 WIB

Menggantikan Ayah, Remaja 16 Tahun Asal Malang Berangkat Haji Bawa Amanah Terakhir

Author

Fatta Rizqy Santoso (Foto Istimewa)
Malang - Haidar Fatta Rizqy Santoso, remaja 16 tahun asal Kota Malang, Jawa Timur, berangkat menunaikan ibadah haji 2026 dengan cerita yang tidak biasa. Keberangkatannya bukan sekadar perjalanan ibadah. Ia membawa amanah besar dari ayahnya yang telah meninggal dunia.

Atta, sapaan akrabnya, menggantikan posisi sang ayah, Dwi Santosa, yang sebelumnya terdaftar sebagai calon haji kloter 11 Kota Malang. Surat panggilan haji datang hanya sekitar satu pekan setelah ayahnya wafat.

Di tengah suasana duka, keluarga harus segera mengambil keputusan penting. Pelimpahan porsi haji dilakukan agar kesempatan tersebut tidak hilang. Ibu Atta, May Syaroh, menceritakan prosesnya berjalan cepat dan terasa dimudahkan.

Suaminya meninggal pada 25 Agustus. Awal September, surat panggilan haji sudah diterima. Waktu yang sempit membuat keluarga bergerak cepat mengurus administrasi, terutama karena mendekati batas pelunasan tahap kedua.

Proses pergantian nama berjalan lancar. Setelah pengurusan data dan foto, nama yang terdaftar langsung berubah menjadi Atta dalam waktu singkat. Bagi keluarga, ini menjadi tanda bahwa jalan telah dibukakan.

Keberangkatan Atta juga didukung perubahan aturan usia minimal calon haji. Jika sebelumnya batas minimal 17 tahun, kini peserta usia 13 tahun sudah diperbolehkan berangkat. Aturan ini membuka peluang bagi Atta untuk menggantikan ayahnya.

Bagi Atta, perjalanan ini memiliki makna yang dalam. Ia tidak hanya menjalankan rukun Islam kelima, tetapi juga berusaha menunaikan pesan terakhir sang ayah.

Sejak kecil, Atta sudah dibiasakan mandiri. Ia juga dipersiapkan untuk memikul tanggung jawab sebagai anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga. Pesan ayahnya terus ia ingat dan pegang.

Ayahnya pernah berpesan bahwa jika suatu saat sudah tidak ada, Atta harus mampu mengurus keluarga. Ia juga diminta siap menggantikan jika ada panggilan berangkat haji.

Pesan itu kini menjadi kenyataan. Atta menjalankan amanah tersebut dengan penuh kesungguhan.

Menjelang keberangkatan, ia mempersiapkan diri secara fisik dan mental. Ia menjaga kebugaran tubuh agar siap menjalani rangkaian ibadah yang padat. Ia juga memperdalam ilmu agama dari pondok pesantren sebagai bekal spiritual.

Setibanya di Tanah Suci, Atta berencana membadalkan umrah untuk almarhum ayahnya. Niat ini menjadi bentuk bakti yang ingin ia persembahkan.

Perjalanan Atta menunjukkan bahwa ibadah bisa menjadi ruang untuk melanjutkan cinta dan tanggung jawab dalam keluarga. Amanah yang ditinggalkan tidak berhenti. Ia hidup melalui langkah yang dijalankan dengan penuh kesadaran.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU