Fadami - Nama Jalur Klemuk di kawasan Songgokerto pernah begitu akrab bagi pengendara yang mencari jalan pintas menuju arah Pujon hingga Kediri. Kini, jalur itu tidak lagi muncul di Google Maps. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Jalur yang dikenal ekstrem tersebut menyimpan catatan panjang kecelakaan, risiko teknis, hingga cerita mistis yang terus hidup di tengah masyarakat.
Secara fisik, Jalur Klemuk bukan jalan biasa. Lebarnya sempit, kontur jalannya tajam, dan kemiringannya ekstrem. Tanjakan dan turunan curam menjadi kombinasi berbahaya, terutama bagi kendaraan dengan kondisi rem yang tidak prima. Banyak pengendara mengalami rem blong saat melintas, terutama ketika turun dari arah atas. Situasi ini menjadikan jalur tersebut sering disebut sebagai jalur alternatif maut oleh warga sekitar.
Pemerintah akhirnya mengambil langkah tegas. Jalur ini resmi ditutup permanen untuk kendaraan roda empat. Water barrier dipasang di beberapa titik untuk mencegah mobil nekat masuk. Per April 2026, fokus utama adalah memastikan tidak ada lagi kendaraan roda empat yang melintas, karena risiko yang terlalu tinggi. Meski begitu, kendaraan roda dua masih terlihat mencoba melewati jalur ini, meski dengan risiko yang tetap besar.
Di balik ancaman nyata dari kondisi jalan, Jalur Klemuk juga dikenal karena cerita yang sulit dijelaskan secara logika. Di salah satu sisi jalan, terdapat makam tanpa nama yang berdiri sendiri. Tidak ada penanda jelas siapa yang dimakamkan di sana. Warga setempat mempercayai makam tersebut sebagai penunggu kawasan itu. Beberapa pengendara mengaku mengalami kejadian janggal saat melintas, mulai dari kendaraan tiba-tiba terasa berat hingga perasaan tidak nyaman yang datang tanpa sebab.
Cerita mistis ini memperkuat citra Jalur Klemuk sebagai jalur yang tidak hanya berbahaya secara fisik, tetapi juga menyimpan aura yang membuat banyak orang memilih menghindar. Kombinasi antara kondisi jalan ekstrem dan narasi supranatural membuat jalur ini menjadi semacam legenda urban di wilayah Kota Batu.
Sebagai alternatif, pengendara kini diarahkan melalui jalur Payung di kawasan Songgoriti. Jalur ini dinilai lebih aman dengan kondisi jalan yang lebih stabil dan ramah untuk berbagai jenis kendaraan. Meski jaraknya sedikit lebih jauh, faktor keselamatan menjadi pertimbangan utama.
Hilangnya Jalur Klemuk dari Google Maps bisa dilihat sebagai upaya perlindungan. Namun di lapangan, jalur itu tetap ada, tetap sunyi, dan tetap menyimpan cerita. Bagi sebagian orang, Jalur Klemuk bukan sekadar rute yang ditutup. Ia adalah pengingat bahwa tidak semua jalan pintas layak untuk ditempuh, terutama ketika risiko yang menunggu jauh lebih besar dari sekadar menghemat waktu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung