Malang - Perkembangan teknologi visual di Kota Malang melahirkan tren kreatif baru di kalangan anak muda, yakni video mapping. Seni pertunjukan berbasis proyeksi visual ini mulai ramai diminati karena mampu mengubah bangunan biasa menjadi media pertunjukan yang hidup, dinamis, dan penuh imajinasi. Dalam beberapa tahun terakhir, video mapping tidak lagi identik dengan event besar atau pertunjukan kelas nasional. Anak muda Malang kini mulai menjadikannya sebagai ruang ekspresi kreatif yang tumbuh dari komunitas.
Fenomena ini terlihat dari munculnya sejumlah komunitas visual dan pegiat multimedia yang rutin menggelar pertunjukan video mapping di beberapa titik ikonik Kota Malang. Salah satu lokasi yang cukup sering digunakan adalah gedung heritage di kawasan pusat kota. Bangunan tua dengan arsitektur klasik itu justru menjadi kanvas favorit karena detail dinding dan bentuk bangunannya mampu menghasilkan efek visual yang lebih dramatis saat dipadukan dengan proyeksi cahaya.
Menariknya, pertunjukan video mapping di Malang tidak hanya sekadar menampilkan animasi visual. Banyak kreator muda mulai memasukkan unsur budaya lokal, musik elektronik, hingga kritik sosial dalam karya mereka. Hal ini membuat video mapping berkembang menjadi medium bercerita yang dekat dengan generasi muda. Penonton tidak hanya menikmati visual, tetapi juga merasakan pengalaman audio visual yang imersif.
Perkembangan ini juga tidak lepas dari semakin mudahnya akses teknologi. Jika dahulu video mapping identik dengan perangkat mahal dan software yang rumit, kini banyak anak muda belajar secara mandiri melalui internet dan media sosial. Mereka bereksperimen menggunakan proyektor sederhana, laptop rakitan, hingga software gratis untuk menciptakan karya visual yang menarik. Dari proses itulah lahir kolaborasi antar mahasiswa desain, videografer, musisi elektronik, animator, hingga lighting artist di Kota Malang.
Atmosfer kreatif itu semakin terasa ketika komunitas video mapping mulai rutin mengadakan pertunjukan terbuka untuk publik. Acara yang digelar di gedung heritage Kota Malang misalnya, sering menjadi ruang berkumpulnya anak muda lintas komunitas. Tidak sedikit pengunjung yang datang hanya untuk menikmati suasana malam kota dengan pertunjukan visual yang memadukan cahaya, musik, dan arsitektur bangunan tua.
Kehadiran video mapping juga membuka peluang baru bagi industri kreatif lokal. Banyak pelaku event, brand lokal, hingga sektor pariwisata mulai melirik konsep pertunjukan visual ini untuk berbagai kegiatan promosi. Kota Malang yang dikenal sebagai kota pendidikan dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan seni digital karena didukung banyak talenta muda kreatif dari kampus dan komunitas.
Di tengah derasnya budaya konten digital, video mapping menjadi bukti bahwa anak muda Malang tidak hanya menjadi penonton teknologi, tetapi juga pencipta pengalaman visual yang mampu menarik perhatian publik. Dari dinding gedung tua yang disulap menjadi layar raksasa, lahir ruang baru bagi kreativitas yang terus tumbuh di jantung Kota Malang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung