Malang - Suasana latihan di Dreams Football Pitch, Pakis, Jumat pagi berubah jauh dari rutinitas biasa. Lapangan yang biasanya dipenuhi instruksi taktik dan suara sepatu beradu dengan rumput, kali ini dipenuhi emosi. Tegang. Haru. Ribuan harapan yang terasa menggantung di udara.
Para Aremania datang bukan sekadar menyaksikan latihan. Mereka membawa kekecewaan. Kekalahan dari Persebaya Surabaya pekan lalu masih terasa menyakitkan. Tekanan itu akhirnya sampai langsung ke hadapan para pemain.
Di tengah situasi tersebut, Hansamu Yama Pranata melangkah maju. Ia berdiri di depan massa dengan megaphone di tangan. Tidak ada jarak. Tidak ada perantara. Hanya pemain dan suporter yang saling menatap dalam situasi yang jujur.
Ia tidak berputar-putar. Ia langsung mengambil tanggung jawab. Kalimatnya singkat, tetapi berat. Ia meminta maaf. Bukan hanya atas nama pribadi, tetapi mewakili seluruh tim. Nada suaranya bergetar, mencerminkan tekanan yang ia rasakan.
Tudingan soal menurunnya performa dan kurangnya kerja keras sempat mencuat. Namun, Hansamu menepisnya. Ia menegaskan bahwa tidak ada pemain yang masuk ke lapangan dengan niat kalah. Baginya, kekalahan adalah bagian dari sepak bola, tetapi bukan sesuatu yang diinginkan.
Interupsi dari suporter sempat muncul. Ada yang menyebut kekalahan seperti mulai menjadi pola. Namun, Hansamu tetap tenang. Ia tidak membalas dengan emosi. Ia justru membuka sisi lain yang jarang terlihat. Tekanan mental yang mereka hadapi. Cemoohan yang ia terima langsung, baik di stadion maupun di luar lapangan.
Pernyataannya terasa personal. Ia tidak menolak kritik. Ia menerimanya sebagai konsekuensi profesi. Itu yang membuat momen tersebut terasa lebih kuat. Tidak ada pembelaan berlebihan. Yang ada adalah pengakuan dan kesadaran.
Di akhir, ia tidak hanya meminta maaf. Ia menawarkan janji. Bukan janji kosong, tetapi komitmen untuk tampil lebih ngotot di pertandingan berikutnya. Ia mengajak Aremania untuk tetap berdiri di belakang tim. Bersama. Bukan saling menjatuhkan.
Teriakan Salam Satu Jiwa menutup pertemuan itu. Suaranya kembali bergema. Tidak lagi setegang awal. Ada ruang harapan yang mulai terbuka. Di tengah tekanan, momen ini menjadi pengingat bahwa hubungan antara tim dan suporter tidak hanya soal menang dan kalah. Ini soal kepercayaan yang terus diuji.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Aremafc.com