Kamis, 21 MEI 2026 • 15:22 WIB

Dolar AS Menguat, Perajin Tempe di Malang Mulai Tertekan Harga Kedelai Impor

Author

Pengrajin Keripik Tempe Sanan Malang (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE)

Malang - Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat mulai dirasakan pelaku usaha kecil di Kota Malang. Salah satu sektor yang paling terdampak adalah industri tempe yang selama ini bergantung pada pasokan kedelai impor sebagai bahan baku utama produksi.

Melemahnya nilai rupiah terhadap dolar membuat harga kedelai impor perlahan ikut naik. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran di kalangan perajin tempe, khususnya di kawasan sentra industri Sanan yang dikenal sebagai pusat produksi tempe dan keripik tempe khas Malang.

Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Malang, Eko Sri Yuliadi, mengakui dampak penguatan dolar mulai terasa pada komoditas tertentu. Menurutnya, sebagian besar kebutuhan pokok di pasaran masih relatif stabil, namun kedelai menjadi komoditas yang paling rentan karena ketergantungan pada impor.

Saat nilai tukar dolar menembus kisaran Rp17.600, biaya pembelian bahan baku otomatis meningkat. Situasi tersebut membuat pelaku usaha harus menghitung ulang biaya produksi agar usaha mereka tetap berjalan.

“Kalau kedelai impor naik, otomatis biaya produksi tempe juga ikut naik. Ini yang sekarang mulai dirasakan para perajin,” ujarnya.

Di sisi lain, para produsen tempe di Sanan mulai menghadapi dilema. Jika harga jual dinaikkan, mereka khawatir pembeli berkurang. Namun jika harga tetap dipertahankan, keuntungan usaha semakin menipis karena biaya produksi terus bertambah.

Beberapa perajin mengaku mulai mencari cara agar tetap bisa bertahan di tengah tekanan ekonomi. Salah satu langkah yang mulai dipertimbangkan adalah mengecilkan ukuran tempe tanpa menaikkan harga jual secara signifikan. Cara tersebut dinilai menjadi pilihan paling aman agar konsumen tetap membeli produk mereka.

Kondisi ini juga mempengaruhi pelaku usaha olahan tempe lainnya seperti keripik tempe dan produk makanan berbasis kedelai. Mereka harus menyesuaikan pengeluaran produksi, mulai dari pembelian bahan baku hingga distribusi barang.

Pemerintah Kota Malang pun mulai mengingatkan pelaku usaha agar lebih bijak dalam penggunaan bahan baku impor. Tekanan ekonomi global dinilai masih berpotensi berlanjut sehingga pelaku UMKM diminta lebih adaptif menghadapi perubahan pasar.

Bagi Kota Malang, industri tempe bukan sekadar usaha rumahan biasa. Ribuan warga menggantungkan penghasilan dari sektor ini, mulai dari produsen, pekerja penggorengan, pengemasan, hingga penjual oleh-oleh. Karena itu, kenaikan harga kedelai impor menjadi persoalan yang ikut mempengaruhi ekonomi masyarakat kecil.

Di tengah kondisi tersebut, para perajin berharap nilai tukar rupiah segera stabil agar harga kedelai tidak semakin melonjak. Sebab jika situasi terus berlangsung, tekanan terhadap industri tempe dikhawatirkan semakin berat dan berimbas pada daya beli masyarakat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU