Kegiatan Penuangan Eco Enzyme (Foto Istimewa)
Malang - Pagi itu suasana bantaran sungai di salah satu sudut Kota Batu terlihat berbeda. Sejumlah ibu rumah tangga datang membawa botol dan jerigen kecil berisi cairan berwarna cokelat. Mereka tidak sedang mencuci atau membuang limbah rumah tangga. Dengan perlahan, cairan itu justru disiramkan ke aliran sungai sambil sesekali berbincang dan tertawa bersama.
Kegiatan itu sudah menjadi rutinitas yang mereka lakukan secara berkala. Cairan yang disiram bukan bahan kimia, melainkan eco enzim, hasil fermentasi limbah organik rumah tangga seperti kulit buah dan sayuran yang dicampur gula serta air selama beberapa bulan.
Bagi sebagian orang, kegiatan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi kelompok ibu rumah tangga ini, aksi kecil itu menjadi bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekitar yang mereka mulai dari rumah sendiri.
Mereka mengaku awalnya hanya belajar mengolah sampah dapur agar tidak menumpuk di tempat pembuangan. Dari kebiasaan memilah sampah organik, mereka mulai mengenal eco enzim melalui komunitas lingkungan dan media sosial. Setelah mencoba membuat sendiri, mereka kemudian memanfaatkan cairan itu untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, mulai dari pupuk tanaman hingga pembersih alami.
Seiring waktu, muncul ide untuk melakukan penyiraman eco enzim ke sungai sebagai simbol ajakan menjaga kebersihan lingkungan. Aktivitas itu pun berkembang menjadi agenda bersama yang melibatkan warga sekitar.
Menurut mereka, kebiasaan kecil seperti mengolah sampah organik dapat membantu mengurangi limbah rumah tangga yang setiap hari terus bertambah. Selain itu, kegiatan bersama di bantaran sungai juga menjadi ruang sosial baru bagi para ibu rumah tangga untuk saling berbagi pengetahuan tentang lingkungan.
Pemandangan ibu-ibu membawa botol eco enzim di tepi sungai kini mulai akrab ditemui warga sekitar. Tidak sedikit masyarakat yang awalnya penasaran kemudian ikut belajar membuat eco enzim sendiri di rumah.
Kegiatan tersebut juga menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Dari dapur rumah, kulit buah yang biasanya dibuang ternyata bisa berubah menjadi sesuatu yang dianggap bermanfaat bagi lingkungan.
Di tengah meningkatnya isu pencemaran dan sampah rumah tangga, aksi sederhana para ibu rumah tangga di Kota Batu itu menghadirkan contoh bahwa kepedulian terhadap alam bisa tumbuh dari kebiasaan sehari-hari. Sungai bagi mereka bukan sekadar aliran air, tetapi bagian dari ruang hidup yang harus dijaga bersama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung