Kompleks Pertokoan Pecinan (Foto Istimewa)
Malang - Di balik wajah modern Kota Malang, terdapat kawasan bersejarah yang menjadi saksi perjalanan panjang perkembangan kota, yaitu Pecinan. Kawasan ini tidak hanya dikenal sebagai pusat perdagangan, tetapi juga menjadi ruang lahirnya akulturasi budaya yang terus bertahan hingga sekarang. Bangunan tua, rumah toko, hingga kelenteng yang masih berdiri menjadi penanda bahwa kawasan ini telah menjadi bagian penting dari sejarah Malang selama hampir dua abad.
Sejarah Pecinan Malang bermula pada awal abad ke-19 ketika masyarakat Tionghoa mulai menetap di wilayah yang kini meliputi Jalan Gatot Subroto, Jalan Kebalen, Kotalama, hingga Jalan R.E. Martadinata. Kehadiran komunitas tersebut ditandai dengan berdirinya Kelenteng Eng An Kiong sekitar tahun 1820-an. Pembangunan tempat ibadah ini menjadi bukti bahwa kawasan tersebut telah memiliki komunitas Tionghoa yang cukup besar dan menetap secara permanen.
Pada masa itu, wilayah di sekitar kelenteng berkembang menjadi kawasan permukiman sekaligus pusat aktivitas perdagangan. Para pedagang Tionghoa menjalankan berbagai usaha yang mendukung pertumbuhan ekonomi Kota Malang. Dari sinilah kawasan tersebut kemudian dikenal sebagai Pecinan lama, yang menjadi pusat kehidupan masyarakat Tionghoa pada masa kolonial.
Memasuki akhir abad ke-19, perkembangan infrastruktur mulai mengubah wajah Kota Malang. Jalur kereta api membuka akses perdagangan yang lebih luas sehingga aktivitas ekonomi perlahan bergeser ke arah barat. Perubahan tersebut semakin dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang menerapkan sistem pembagian permukiman berdasarkan kelompok etnis. Dalam kebijakan tersebut, masyarakat Tionghoa diarahkan tinggal di kawasan tertentu yang berdekatan dengan pusat perdagangan.
Awalnya pemerintah kolonial berencana membangun pasar utama kota di kawasan sebelah utara Sungai Brantas. Namun lokasi tersebut dianggap terlalu jauh dari permukiman para pedagang Tionghoa maupun Arab. Setelah melalui berbagai pertimbangan, pusat perdagangan akhirnya dibangun di kawasan yang kini dikenal sebagai Pasar Besar Malang pada awal dekade 1920-an.
Keberadaan Pasar Besar membawa perubahan besar terhadap perkembangan Pecinan. Banyak pedagang Tionghoa memindahkan usaha mereka ke kawasan sekitar pasar, seperti Jalan Wiromargo, Pertukangan, dan Comboran. Kawasan tersebut kemudian berkembang menjadi Pecinan baru yang menjadi pusat perdagangan terbesar di Kota Malang.
Pada masa itu, aktivitas ekonomi di sekitar Pasar Besar sangat didominasi oleh toko-toko milik masyarakat Tionghoa. Selain menjalankan perdagangan hasil bumi, mereka juga mulai mengembangkan usaha percetakan, penerbitan, hingga berbagai bidang jasa lainnya. Kehadiran sekolah yang didirikan oleh komunitas Tionghoa turut meningkatkan kualitas pendidikan dan memperluas peran mereka dalam perkembangan ekonomi kota.
Seiring berjalannya waktu, batas antara kawasan Pecinan dengan permukiman masyarakat lainnya semakin memudar. Pertumbuhan Kota Malang membuat kawasan tersebut berkembang menjadi pusat bisnis yang dihuni berbagai kelompok masyarakat. Rumah-rumah tinggal banyak beralih fungsi menjadi rumah toko, pertokoan modern, restoran, hingga pusat jasa.
Meskipun mengalami banyak perubahan, identitas Pecinan Malang masih dapat dirasakan hingga sekarang. Kelenteng Eng An Kiong tetap menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus simbol keberadaan masyarakat Tionghoa di Kota Malang. Saat perayaan Imlek maupun Cap Go Meh, kawasan ini kembali dipenuhi berbagai atraksi budaya yang menarik perhatian masyarakat dan wisatawan.
Kini, Pecinan Malang tidak hanya menjadi kawasan perdagangan, tetapi juga menjadi ruang pelestarian sejarah dan budaya. Setiap sudutnya menyimpan kisah tentang perjalanan sebuah komunitas yang turut membentuk perkembangan Kota Malang. Dari kawasan permukiman sederhana hingga menjadi pusat ekonomi yang ramai, Pecinan membuktikan bahwa keberagaman budaya telah menjadi bagian penting dalam membangun identitas Kota Malang yang dikenal hingga saat ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung