Rekam Jejak Syahrul Trisna Fadilla Lawan Arema Berakhir, Kini Bersiap Menjaga Gawang Singo Edan
Soccer - Arema FC resmi mendapatkan tambahan amunisi di sektor penjaga gawang dengan bergabungnya Syahrul Trisna Fadilla untuk mengarungi kompetisi Super League 2026-2027. Di balik kepindahannya ke Malang, tersimpan sebuah catatan menarik yang mewarnai perjalanan karier kiper asal Sleman tersebut.
Sebelum resmi mengenakan seragam Singo Edan, Syahrul ternyata belum pernah sekalipun merasakan kemenangan saat menghadapi Arema. Klub yang selama ini menjadi lawannya kini justru menjadi tim yang akan dibelanya sepanjang musim.
Sepanjang karier profesionalnya, Syahrul telah enam kali berhadapan dengan Arema bersama empat identitas klub yang berbeda. Ia pertama kali menghadapi Singo Edan ketika masih membela PS TNI yang kemudian berganti nama menjadi PS TIRA, sebelum akhirnya bertransformasi menjadi Persikabo 1973. Setelah itu, Syahrul kembali bertemu Arema saat memperkuat PSIS Semarang.
Dari enam pertemuan tersebut, lima pertandingan berlangsung di kompetisi kasta tertinggi Indonesia, yakni Liga 1 atau Super League. Sementara satu laga lainnya terjadi pada ajang pra-musim Piala Menpora 2021.
Hasilnya pun menjadi catatan yang cukup unik. Syahrul belum pernah membawa timnya menaklukkan Arema. Dari enam pertandingan, ia hanya mampu meraih tiga hasil imbang dan harus menerima tiga kekalahan.
Statistik tersebut menjadi salah satu sisi menarik dalam perjalanan karier kiper berusia 30 tahun itu. Sebab, setiap kali berhadapan dengan Arema, hasil positif berupa kemenangan selalu gagal diraih.
Ironisnya, pada Super League 2025-2026, Syahrul sebenarnya tercatat sebagai pemain Borneo FC Samarinda. Klub berjuluk Pesut Etam itu justru sukses menyapu bersih dua kemenangan atas Arema, baik pada laga kandang maupun tandang. Namun, Syahrul tidak ikut merasakan kemenangan tersebut karena sepanjang dua pertandingan itu ia hanya mengisi bangku cadangan.
Kini, situasinya berubah sepenuhnya. Kiper dengan nilai pasar sekitar Rp2,17 miliar itu tidak lagi datang sebagai lawan yang berusaha menghentikan langkah Singo Edan. Sebaliknya, ia diharapkan menjadi tembok kokoh di bawah mistar gawang Arema untuk membantu tim meraih prestasi pada musim kompetisi mendatang.
Pengalaman menghadapi Arema dari sisi lawan tentu menjadi bekal tersendiri bagi Syahrul. Ia telah mengetahui karakter permainan Singo Edan, atmosfer pertandingan di Stadion Kanjuruhan maupun laga tandang, hingga tekanan besar yang selalu mengiringi setiap pertandingan Arema.
Kini, seluruh catatan masa lalu itu hanya akan menjadi bagian dari perjalanan kariernya. Tantangan baru telah menanti. Bukan lagi mencari cara mengalahkan Arema, melainkan menjaga gawang Singo Edan agar tetap kokoh dan ikut mengantarkan klub kebanggaan Aremania meraih hasil terbaik di Super League 2026-2027.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung