Lucas Frigeri dan Satryo Kiper Andala Arema FC (aremafc.com)
Soccer - Sebuah babak baru dimulai di bawah mistar gawang Arema FC. Setelah lima musim berturut-turut mengandalkan penjaga gawang asing sebagai pilihan utama, manajemen Singo Edan kini mengambil arah berbeda dengan membangun kekuatan dari talenta lokal untuk menghadapi Super League 2026-2027.
Keputusan tersebut sekaligus menandai berakhirnya era kiper asing di Arema. Musim depan, empat nama penjaga gawang lokal akan mengisi skuad, yakni Syahrul Trisna Fadillah dan Erlangga Setyo Dwi Saputra yang didatangkan sebagai rekrutan anyar. Keduanya akan bersaing memperebutkan posisi utama bersama Muhammad Adi Satryo dan Gianluca Claudio Pandeynuwu yang tetap dipertahankan dari musim sebelumnya.
Dengan komposisi itu, Lucas Frigeri dipastikan menjadi kiper asing terakhir yang membela Arema. Penjaga gawang asal Brasil tersebut mengakhiri kebersamaannya bersama Singo Edan setelah kontraknya selesai pada akhir Super League 2025-2026.
Perubahan strategi ini cukup menarik jika melihat perjalanan Arema dalam beberapa musim terakhir. Klub asal Malang tersebut justru menjadi salah satu pelopor kebangkitan penggunaan kiper asing di era modern Liga 1 ketika merekrut Adilson Maringa pada musim 2021-2022. Saat sebagian besar klub masih mempercayakan posisi penjaga gawang kepada pemain lokal, Arema memilih jalur berbeda dengan mendatangkan kiper asal Brasil tersebut.
Keputusan itu terbukti membawa dampak positif. Maringa menjadi salah satu sosok penting di bawah mistar dan bertahan selama dua musim bersama Singo Edan sebelum akhirnya berpisah.
Setelah era Maringa berakhir, Arema kembali mempertahankan tradisi menggunakan penjaga gawang asing dengan merekrut Julian Schwarzer. Kiper asal Filipina yang juga putra legenda Timnas Australia, Mark Schwarzer, hanya bertahan selama satu musim. Meski singkat, Julian memiliki peran penting ketika Arema berjuang keluar dari ancaman degradasi pada Liga 1 2023-2024.
Tongkat estafet kemudian berpindah kepada Lucas Frigeri. Penjaga gawang asal Brasil itu didatangkan dari Madura United dan dipercaya menjadi benteng terakhir Arema selama dua musim. Kini, berakhirnya kontrak Frigeri juga menjadi penutup perjalanan lima musim Arema yang selalu mengandalkan kiper asing.
Jika ditarik lebih jauh ke belakang, sebenarnya Arema pernah lebih dulu mencoba menggunakan penjaga gawang impor pada Liga 1 2018. Saat itu mereka merekrut Srdjan Ostojic asal Serbia pada paruh musim kompetisi. Namun, kerja sama tersebut hanya berlangsung singkat karena kontraknya tidak diperpanjang untuk musim berikutnya.
Meski identik sebagai klub yang menghidupkan kembali tren penggunaan kiper asing dalam beberapa tahun terakhir, Arema bukanlah pelopor pertama di Indonesia. Sejumlah klub sudah lebih dahulu menggunakan jasa penjaga gawang asing sejak era kompetisi sebelumnya.
Beberapa nama yang pernah menghiasi kompetisi nasional antara lain Daryl Sinerine bersama Petrokimia Putra Gresik, Mbeng Jean di Persija Jakarta, Yoo Jae-hoon di Persipura Jayapura, Mariusz Mucharski di Persib Bandung, Sergio Vargas di PSM Makassar, Zheng Cheng di Persebaya Surabaya, Sinthaweechai Kosin Hathairattanakool di Persib Bandung, Evgeny Khmaruk di Persija Jakarta, hingga Denis Romanovs yang tampil di Liga Primer Indonesia bersama Cendrawasih Papua.
Kini arah kebijakan Arema berubah. Manajemen memilih membangun persaingan sehat di posisi penjaga gawang dengan mengandalkan empat pemain lokal yang dinilai memiliki kualitas dan potensi berkembang. Keputusan tersebut bukan sekadar mengakhiri tradisi lima musim memakai kiper asing, tetapi juga menjadi sinyal bahwa Singo Edan ingin memberikan kepercayaan lebih besar kepada talenta dalam negeri untuk menjaga gawang mereka pada musim kompetisi mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Aremafc.com