Minggu, 10 MEI 2026 • 09:43 WIB

Siswi SMA di Malang Raih Gold Medal Berkat Riset Salep Luka Diabetes dari Larva Lalat Hijau

Author

Siswi SMAN 3 Malang Ciptakan Salep Penyembuh Luka Diabetes (Foto Istimewa)

Malang - Inovasi di bidang kesehatan kembali lahir dari dunia pendidikan menengah. Ganes Danastri Pratista Aura Afra, siswi SMA Negeri 3 Malang, berhasil meraih Gold Medal dalam ajang Indonesian Science and Innovation Fair (ISIF) berkat riset pengobatan luka diabetes berbasis bahan alam yang telah ia kembangkan sejak tahun 2024.

Prestasi tersebut menjadi sorotan karena penelitian yang dilakukan Ganes menyentuh persoalan serius di Indonesia, yaitu tingginya kasus diabetes melitus dan komplikasi luka diabetik yang kerap berujung amputasi. Berdasarkan data terkini, jumlah penderita diabetes di Indonesia telah melampaui 19 juta orang. Kondisi ini membuat kebutuhan terhadap terapi luka yang efektif dan terjangkau semakin mendesak.

Berangkat dari keresahan tersebut, Ganes mencoba menghadirkan alternatif terapi berbasis kekayaan hayati lokal. Dalam penelitiannya, ia mengembangkan salep dari ekstraksi minyak larva lalat hijau atau Lucilia sericata yang dikombinasikan dengan tanaman jarak cina atau Jatropha multifida.

“Penelitian ini saya mulai sejak 2024 karena melihat tingginya kasus luka diabetes yang sering berujung amputasi. Saya ingin mencari alternatif terapi yang lebih nyaman, minim nyeri, dan memanfaatkan bahan alam yang mudah ditemukan di Indonesia,” ujar Ganes.

Larva lalat hijau selama ini dikenal dalam dunia medis melalui metode Maggot Debridement Therapy atau MDT. Metode tersebut memanfaatkan larva hidup untuk membantu membersihkan jaringan mati pada luka. Namun, menurut Ganes, sebagian masyarakat masih merasa kurang nyaman dengan penggunaan larva secara langsung.

Karena itu, ia mencoba pendekatan berbeda dengan mengekstrak larva menjadi minyak lalu mengolahnya menjadi salep. Kandungan enzim proteolitik dan senyawa antibakteri dalam minyak larva diketahui mampu membantu menghancurkan jaringan nekrotik sekaligus melawan bakteri penyebab infeksi seperti Staphylococcus aureus.

Efektivitasnya diperkuat dengan tambahan getah tanaman jarak cina yang kaya flavonoid, tanin, dan senyawa jatrophine. Kandungan tersebut dinilai mampu mempercepat pembekuan darah serta membantu regenerasi jaringan kulit yang rusak akibat luka diabetes.

Penelitian dilakukan menggunakan model tikus diabetes yang diinduksi aloksan dan pola makan tinggi lemak. Hasilnya menunjukkan perkembangan yang menjanjikan. Luka pada objek penelitian mampu mengalami penutupan hingga 96,6 persen pada hari ke-19 pengujian.

“Hasil pengujian menunjukkan penutupan luka mencapai 96,6 persen pada hari ke-19. Angka ini mendekati efektivitas salep komersial yang sudah beredar di pasaran,” kata Ganes.

Keberhasilan tersebut mengantarkan Ganes meraih penghargaan internasional melalui Indonesian Young Scientist Association. Pencapaian ini sekaligus membuktikan bahwa riset dari tingkat sekolah menengah mampu memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu kesehatan dan biomedis.

“Inovasi ini saya harapkan bisa menjadi langkah awal pengembangan terapi luka diabetes yang lebih efektif, terjangkau, dan berbasis kekayaan hayati lokal Indonesia,” pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Online

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU