Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 30 JUNI 2026 • 11:54 WIB

Petani Kota Batu Beralih ke Anggrek, Produksi Tembus Ratusan Ribu dan Nilai Ekonomi Terus Meningkat

Petani Kota Batu Beralih ke Anggrek, Produksi Tembus Ratusan Ribu dan Nilai Ekonomi Terus MeningkatAnggrek" data-author="Foto Istimewa" data-credit="Foto Istimewa" data-source="Foto Istimewa">Pertanian Anggrek (Foto Istimewa)

Life - Sektor hortikultura Kota Batu kembali menunjukkan perkembangan yang menjanjikan. Tidak lagi hanya dikenal sebagai daerah penghasil sayur dan buah, Kota Batu kini semakin mengukuhkan diri sebagai salah satu sentra tanaman hias, khususnya anggrek. Tingginya permintaan pasar dan nilai jual yang lebih kompetitif membuat semakin banyak petani memilih beralih ke komoditas bernilai ekonomi tinggi tersebut.

Data terbaru mencatat produksi hortikultura Kota Batu berhasil mencapai 807.950 pohon anggrek pot dan 290.160 tangkai anggrek potong. Capaian ini sekaligus mencerminkan pertumbuhan sektor tanaman hias yang konsisten, dengan rata-rata kenaikan sekitar 10 persen setiap tahun dalam tiga tahun terakhir.

Meningkatnya produksi tersebut menjadi gambaran perubahan pola usaha tani di tingkat masyarakat. Banyak petani mulai mengurangi ketergantungan pada komoditas sayur dan buah, kemudian beralih mengembangkan tanaman hias yang dinilai mampu memberikan keuntungan lebih besar serta memiliki prospek pasar yang terus berkembang.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu, Hendry Suseno, menjelaskan bahwa pergeseran tersebut didasarkan pada perhitungan ekonomi yang cukup menjanjikan. Menurutnya, nilai tukar petani pada sektor tanaman hias jauh lebih tinggi dibandingkan komoditas hortikultura konvensional.

"Secara analisis usaha tani, beralih ke tanaman hias ini memang jauh lebih menguntungkan ketimbang sayur atau buah karena nilai tukar petani di sektor ini sangat tinggi," ujar Hendry.

Perkembangan ini terlihat nyata di wilayah Kecamatan Junrejo. Desa Beji dan Desa Dadaprejo kini berkembang menjadi sentra budidaya anggrek Dendrobium yang memasok kebutuhan pasar dalam maupun luar daerah. Keberadaan sentra tersebut turut mendorong tumbuhnya ekosistem usaha baru, mulai dari pembibitan, perawatan, hingga pemasaran tanaman hias.

Selain memberikan nilai tambah bagi petani, sektor anggrek juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha pendukung, seperti penyedia media tanam, pot, pupuk, hingga jasa distribusi. Kondisi ini menjadikan tanaman hias tidak sekadar komoditas pertanian, tetapi juga penggerak ekonomi lokal yang melibatkan banyak sektor.

Meski produksi terus meningkat, aspek kualitas tetap menjadi perhatian utama. Untuk menjaga daya saing sekaligus memastikan keberlanjutan usaha petani, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu mendorong penerapan sistem budidaya berbasis Good Agricultural Practices (GAP). Penerapan standar tersebut diharapkan mampu menghasilkan tanaman yang sehat, berkualitas, ramah lingkungan, serta memenuhi kebutuhan pasar yang semakin selektif.

Dengan pertumbuhan produksi yang terus meningkat dan dukungan penerapan budidaya modern, Kota Batu memiliki peluang besar untuk semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat pengembangan anggrek di Indonesia. Transformasi dari pertanian konvensional menuju komoditas bernilai tinggi ini menjadi bukti bahwa inovasi di sektor pertanian mampu menciptakan peluang ekonomi baru sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Petani Kota Batu Beralih ke Anggrek, Produksi Tembus Ratusan Ribu dan Nilai Ekonomi Terus Meningkat

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!